<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nukilan Hidup &#187; richardee</title>
	<atom:link href="http://nukilan.com/author/richardee/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nukilan.com</link>
	<description>Ketika petikan kata-kata menjadi sebuah blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2009 14:07:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Album Kenangan Kehidupan</title>
		<link>http://nukilan.com/2007/05/10/album-kenangan-kehidupan.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2007/05/10/album-kenangan-kehidupan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 04:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>richardee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nukilan.com/2007/05/10/album-kenangan-kehidupan.htm</guid>
		<description><![CDATA[Sambil kupejamkan mata aku mendengarkan bait demi bait lagu Klymaxx yang baru saja aku download. Meski belum pernah mendengarkan sebelumnya tapi rasanya telinga ini tak pernah berbohong, hampir kurasakan koleksi laguku yang telah ku nikmati memiliki ketukan dan beat yang hampir hampir mirip, khas beat 80an. Tak seperti biasa, hari hari terakhir ini aku merasa cengeng, tak terasa mataku berkaca kaca. Lagu lagu lama itu telah membawa anganku kembali ke masa lalu, seakan ku dituntunnya untuk melongok lagi ke belakang. Tak sadar aku telah membuka album kenangan lamaku.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sambil kupejamkan mata aku mendengarkan bait demi bait lagu Klymaxx yang baru saja aku download. Meski belum pernah mendengarkan sebelumnya tapi rasanya telinga ini tak pernah berbohong, hampir kurasakan koleksi laguku yang telah ku nikmati memiliki ketukan dan beat yang hampir hampir mirip, khas beat 80an. Tak seperti biasa, hari hari terakhir ini aku merasa cengeng, tak terasa mataku berkaca kaca. Lagu lagu lama itu telah membawa anganku kembali ke masa lalu, seakan ku dituntunnya untuk melongok lagi ke belakang. Tak sadar aku telah membuka album kenangan lamaku.<br />
<span id="more-159"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sampai suatu saat terpikirkan untuk dapat terlahir kembali ke masa lalu, masa yang luar biasa. Berandai jika memiliki mesin waktu seperti The Time Machine-nya Guy Pearce, aku bebas pergi ke lorong waktu manapun. Tentu saja yang aku inginkan untuk kembali ke kampung halamanku, bertemu dengan teman-temanku semasa aku duduk di bangku sekolah. Pasti teman-temanku  memiliki perasaan yang sama untuk merindukan hal itu. Sepanjang waktu aku bisa bersama teman-temanku meski kadang cuma berbicara yang tak ada juntrungannya. Bukan hanya itu. Aku akan berusaha memperbaiki kekuranganku untuk yang kedua kalinya meskipun seorang Guy Pearce pun gagal menghidupkan kembali kekasihnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu lalu saat pulang kerumah, tak sengaja terlihat album foto lama terbuka. Foto-foto itu sudah tampak berdebu, berbau apek dengan warna warna yang kusam tak seperti hasil foto sekarang. Tapi justru itu semua yang bisa menghidupkan kembali kenangan  lamaku. Aku bisa melihat diriku waktu kecil, waktu aku berambut panjang, sungguh pengalaman yang menggelikan saat itu. Kutatap foto foto lama orang tuaku saat mendekap diriku dengan kulit dan badan yang masih segar. Kulihat teman-temanku dalam rangakain foto yang lain. Semua kulihat sambil mengembalikan kenanganku ke masa lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kutepis lamunanku. Semuanya sudah berubah kini. Tak ada lagi rambut panjang bahkan sekarang kepalaku sudah mulai botak. Bersyukur kedua orang tuaku masih sehat meski mereka terlihat renta. Tak terdengar juga kabar teman temanku. Semuanya telah berubah seiring berjalannya waktu yang terus berjalan, ketika mentari pagi menggantikan gelapnya malam yang berputar tak kenal lelah. Serasa masa indah itu berjalan terlalu cepat tanpa memberiku kesempatan berasyik masyuk dengan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sekarang bukanlah masa lalu, aku hidup dimasa sekarang yang bertambah lama bertambah keras. Bukan saatnya lagi aku harus disuapin kedua orangtuaku justru aku yang harus gantian menyuapi mereka. Tahun demi tahun dilewati, memutihkan rambut mereka, menjadikan kulit mereka keriput, kondisi raga yang tak sekuat dan selincah dulu. Lagi-lagi lamunanku berharap pada mesin waktu untuk dapat mengembalikan mereka orang orang yang aku sayangi.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa-rasanya menentang kodrat apabila mesin waktu itu benar benar ada untuk dapat  kembali ke masa lalu, dan untuk mengubah keadaanku. Seakan tidak bersyukur atas apa yang telah dikaruniakan Sang Khalik. Ku masih ditiupkan nafas kehidupan, melihat dunia ini berubah, mendengar kabar baik. Sadar bahwa waktu tak mungkin dihentikan sedetikpun, apalagi untuk mundur ke belakang. Realistis dan optimis untuk menatap masa depan, membuat album kenangan baru bagi kehidupanku dengan sesekali membuka album kenangan lama. Takkan bisa mengelak akan hal ini, waktu terus berlalu, rintangan harus tetap dilalui untuk dapat bertahan dalam menatap masa depan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Bersyukurlah hari ini kita masih dapat berjumpa dalam kasih sayangNya<br />
Berdoalah dari semua cita cita hidup di dunia dan jangan kita lupa Dia yang ada di atas sana kawan</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sayup sayup lagu 7 Bintang mengalun sendu. Pikiranku kembali melayang, kerinduanku akan masa lalu memuncak, kenangan yang takkan pernah terhapuskan dalam ingatanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 09 Mei 2007, 11:02 PM</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/05/10/album-kenangan-kehidupan.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/05/10/album-kenangan-kehidupan.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2007/05/10/album-kenangan-kehidupan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lajang tetapi bukan jalang</title>
		<link>http://nukilan.com/2007/04/20/lajang-tetapi-bukan-jalang-2.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2007/04/20/lajang-tetapi-bukan-jalang-2.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2007 08:20:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>richardee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2007/04/20/lajang-tetapi-bukan-jalang-2.htm</guid>
		<description><![CDATA[Kapan Kawin? Kapan Kapan
Begitulah bunyi sebuah tagline iklan rokok yang sedang marak menghiasi televisi dan sepanjang jalan di Jakarta. Divisualisasikan oleh Agus Ringgo dengan tampang uniknya menjadi pelengkap kekonyolan. Iklan yang menggelitik dan satire yang menertawakan pada kehidupan mengajak untuk menikmati kehidupan.

Seakan berpihak pada kaum lajang yang kadang jalang merasa tersanjung mengangkat masalah ini menjadi [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/04/27/kata-bukan-cinta-laku-bukan-cinta.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta'>Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/02/02/hidup.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hidup'>Hidup</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Kapan Kawin? Kapan Kapan</em></p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah bunyi sebuah tagline iklan rokok yang sedang marak menghiasi televisi dan sepanjang jalan di Jakarta. Divisualisasikan oleh Agus Ringgo dengan tampang uniknya menjadi pelengkap kekonyolan. Iklan yang menggelitik dan satire yang menertawakan pada kehidupan mengajak untuk menikmati kehidupan.<br />
<span id="more-150"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Seakan berpihak pada kaum lajang yang kadang jalang merasa tersanjung mengangkat masalah ini menjadi pembicaraan hangat. Masalah yang kadang menjadi perdebatan sengit. Membanding bandingkan hidup melajang dengan berkeluarga sama saja mengurai benang kusut, tidak ada titik temunya. Kadang beban itu terasa berat karena pengaruh orang-orang di sekitar kita. Orangtua kita pastinya mengharapkan kita memiliki pasangan untuk melalui kehidupan kecuali bagi yang merelakan anak anak mereka untuk melayani Tuhan menjadi biarawan. Belum juga lingkungan terdekat kita seperti mengejar kita buat cepet cepet menikah. Layaknya target yang menjadi sasaran tembak.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari yang lalu sempat melihat lihat rubrik iklan jodoh di sebuah terbitan ibukota berskala nasional. Yang mencari dengan kriteria yang demikian runtut, dari soal fisik, materi, dan sifat sifat yang lain. Hati kecut menertawakan diri sendiri. Berkaca pada diri sendiri karena tuntutan kehidupan yang selalu berkembang membuat menjadi narsistis. Karena ganteng harus mencari yang cantik, karena kaya harus mencari yang kaya (kalau bisa yang lebih kaya), karena gaul harus mencari gaul juga. Mencari selevel yang akhirnya selalu saja ada tembok besar menghalangi layaknya masuk dalam labirin, untuk menemukan jalan keluar yang ibaratnya menemukan kesamaan akan luar biasa rumit. Yang kadang justru tersesat terlalu dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak adil jika hanya menilai yang lajang. Dibanding dengan hidup melajang sepertinya hidup berkeluarga pasti lebih mengasyikkan apalagi jika ditambah buah hati pasti lebih lengkap lagi. Bahagia rasanya bila hidup sempurna indah seperti itu. Tetapi setali tiga uang hidup berkeluarga pun membutuhkan lebih banyak pengorbanan. Menurut orang orang yang sudah berkeluarga mereka seperti terpenjara jiwa. Semua itu kembali dari masing-masing pasangan dalam saling mengisi dan mengontrol emosi mereka dalam menghadapi perbedaan. Janganlah kapal sampai oleng bahkan karam sebelum sampai menuju pelabuhan. Apakah anggur manis itu direguk hanya dalam hitungan hari? Perkawinan itu sakral dan bukan main main yang tidak dengan mudah dicampakkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Biarkan jika harus dikejar dengan orangtua, teman-teman bahkan umur yang terus menanjak naik. Dengarkan hatimu berbicara bukan dari orang lain. Perkawinan tidak harus mengalahkan segalanya dan bukan akhir dari tapal batas kehidupan, karena justru disitu adalah awal dari kehidupan sesungguhnya. Beranikah kita melangkahkan kaki ke awal kehidupan baru. Egois jika perkawinan sampai menanggalkan status prinsip atau yang lebih parah lagi karena gelimang kilau harta. Itu hanyalah cinta yang tergadai. Janganlah menjadi lajang sekaligus jalang yang mengeksploitasi kenikmatan sesaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesimpulannya hidup menjadi lajang atau menikah adalah pilihan. Masing-masing memiliki jalan dan keunikan serta resiko masing masing. Jika kita bisa mengikuti iramanya jalan terjal berbatu jika dihadapi dengan hati yang lepas akan terasa sangat menyenangkan. Ikuti saja seperti air mengalir.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 19 April 2007, 11:01 PM</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/04/20/lajang-tetapi-bukan-jalang-2.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/04/20/lajang-tetapi-bukan-jalang-2.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/04/27/kata-bukan-cinta-laku-bukan-cinta.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta'>Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2009/02/02/hidup.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Hidup'>Hidup</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2007/04/20/lajang-tetapi-bukan-jalang-2.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanah Terjarah</title>
		<link>http://nukilan.com/2007/04/03/tanah-terjarah.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2007/04/03/tanah-terjarah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2007 03:02:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>richardee</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2007/04/03/tanah-terjarah.htm</guid>
		<description><![CDATA[Sepenggal syair lagu Rayuan Pulau Kelapa yang sudah jarang diperdengarkan, kecuali pada waktu peringatan Ulang Tahun Republik ini. Ungkapan hati dari seorang Ismail Marzuki yang mewakili bangsa ini akan kecintaannya pada Indonesia. Negeri yang kaya, Gemah Ripah Loh Jinawi. Negeri yang dipertahankan sampai dengan titik darah penghabisan untuk mempertahankan sejengkal tanah demi Merah Putih.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2007/04/04/mebangun-dunia-sains-di-indonesia.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mebangun Dunia Sains Di Indonesia'>Mebangun Dunia Sains Di Indonesia</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2007/04/02/uang-itu-penting-waktu-lebih-penting.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Uang Itu Penting, Waktu Lebih Penting'>Uang Itu Penting, Waktu Lebih Penting</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Tanah Airku Indonesia<br />
Negeri Elok Amat Kucinta<br />
Tanah Tumpah Darahku Yang Mulia<br />
Kan Kupuja Spanjang Masa &#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sepenggal syair lagu Rayuan Pulau Kelapa yang sudah jarang diperdengarkan, kecuali pada waktu peringatan Ulang Tahun Republik ini. Ungkapan hati dari seorang Ismail Marzuki yang mewakili bangsa ini akan kecintaannya pada Indonesia. Negeri yang kaya, Gemah Ripah Loh Jinawi. Negeri yang dipertahankan sampai dengan titik darah penghabisan untuk mempertahankan sejengkal tanah demi Merah Putih.<br />
<span id="more-135"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lebih dari setengah abad negeri kita merdeka. Nun jauh disana di kepulauan yang berbatasan langsung dengan negeri Singa yang hanya seluas selemparan batu, negeri kita menjadi negara yang terjajah. Kepulauan di sekitarnya dicabik cabik tak bertanggung jawab. Tanah kita dikeruk, dirampas, dengan imbalan yang tak seberapa tak sebanding dengan nyawa manusia yang dahulu mempertahankannya. Berjuta juta meter kubik pasir dikirim ke negeri singa untuk mempercantiknya, kebalikan dengan kepulauan terluar negeri kita menjadi gersang dan nyaris tenggelam</p>
<p style="text-align: justify;">Tak adil jika menyalahkan negara tetangga. Rakyat kita memang goblok! Mudah ditipu, mudah diperdaya. Karena iming iming uang rela menjual tanah airnya sendiri, dimana dia lahir dia dibesarkan menjejakkan tanah di negeri ini. Uang memang membuat semua orang buta, gila, otak menjadi beku tak mampu berpikir.</p>
<p style="text-align: justify;">Bangsa kita bukan seperti dulu, Kita menjadi bangsa yang lemah yang telah kehilangan jati dirinya sebagai orang INDONESIA, menjadi bangsa yang rendah di mata negara lain. Tak ada beda seperti pelacur di negeri sendiri. Sampai kapan bangsa ini sadar kalau mereka menjadi bangsa terjajah lagi. Dipecundangi, Dibodohi, atau sengaja untuk dibangkrutkan karena memiliki potensi yang besar untuk menjadi bangsa yang besar</p>
<p style="text-align: justify;">Berikan kesempatan pada anak cucu kita untuk melihat negri ini masih ada, jangan biarkan negri ini tenggelam pada keserakahan dan ketamakan.</p>
<p style="text-align: justify;">2 April 2007, 9.55 PM</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/04/03/tanah-terjarah.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/04/03/tanah-terjarah.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2007/04/04/mebangun-dunia-sains-di-indonesia.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mebangun Dunia Sains Di Indonesia'>Mebangun Dunia Sains Di Indonesia</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2007/04/02/uang-itu-penting-waktu-lebih-penting.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Uang Itu Penting, Waktu Lebih Penting'>Uang Itu Penting, Waktu Lebih Penting</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2007/04/03/tanah-terjarah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

