<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nukilan Hidup &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://nukilan.com/category/renungan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nukilan.com</link>
	<description>Ketika petikan kata-kata menjadi sebuah blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2009 14:07:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta</title>
		<link>http://nukilan.com/2009/04/27/kata-bukan-cinta-laku-bukan-cinta.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2009/04/27/kata-bukan-cinta-laku-bukan-cinta.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 02:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nukilan.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang tua, istri, suami, anak, dan kekasih mengungkapkan cinta hanya dengan kata-kata atau hanya dengan perbuatan. Banyak orang membanting tulang mencari nafkah demi orang-orang yang dicintainya, mereka anggap telah melakukan suatu yang disebut cinta. Tetapi ternyata mereka salah dan mereka dicampakkan. Mereka baru melakukan suatu yang disebut dengan kewajiban, bukan cinta.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/05/09/lesson-of-love.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pelajaran Cinta'>Pelajaran Cinta</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/05/09/bagian-tubuh-terpenting.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bagian Tubuh Terpenting'>Bagian Tubuh Terpenting</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2007/02/23/kata-kata-indah.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kata-Kata Indah'>Kata-Kata Indah</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Banyak yang berbuat, banyak yang berucap. Hanya sedikit yang berbuat dan berucap cinta.</p></blockquote>
<p>Banyak orang tua, istri, suami, anak, dan kekasih mengungkapkan cinta hanya dengan kata-kata atau hanya dengan perbuatan. Banyak orang membanting tulang mencari nafkah demi orang-orang yang dicintainya, mereka anggap telah melakukan suatu yang disebut cinta. Tetapi ternyata mereka salah dan mereka dicampakkan. Mereka baru melakukan suatu yang disebut dengan kewajiban, bukan cinta.</p>
<p>Banyak yang anggap, dengan laku saja sudah cukup untuk mengungkapkan cinta. Mereka lupa kalau manusia tidak hanya punya mata, manusia punya telinga, punya mulut, punya rasa. Cinta itu sederhana, cinta hanya perlu diungkapkan sehingga semua panca indra manusia bisa merasakannya.</p>
<p>Jangan kira mereka tahu kalau kita mencitai mereka hanya dengan perbuatan, cinta harus dirasakan oleh semua indra. Katakan &#8220;AKU CINTA KAMU&#8221;, &#8220;AKU SAYANG KAMU&#8221;, &#8220;AKU MEMBUTUHKAN KAMU&#8221;. Ucapkan dan buat mereka tahu kalau kita mencintainya.</p>
<blockquote><p>Laku kita memperlihatkan kalau kita mencintai.<br />
Kata kita memperdengarkan kalau kita mencintai.<br />
Sentuhan kita memberitahu kalau kita mencintai.</p></blockquote>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2009/04/27/kata-bukan-cinta-laku-bukan-cinta.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2009/04/27/kata-bukan-cinta-laku-bukan-cinta.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/05/09/lesson-of-love.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Pelajaran Cinta'>Pelajaran Cinta</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/05/09/bagian-tubuh-terpenting.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bagian Tubuh Terpenting'>Bagian Tubuh Terpenting</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2007/02/23/kata-kata-indah.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kata-Kata Indah'>Kata-Kata Indah</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2009/04/27/kata-bukan-cinta-laku-bukan-cinta.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Mencintaimu Karena</title>
		<link>http://nukilan.com/2009/03/12/i-love-you-because.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2009/03/12/i-love-you-because.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 03:09:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[kata indah]]></category>
		<category><![CDATA[Keindahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nukilan.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[Aku mencintaimu bukan hanya karena kamu apa adanya.
Aku mencintaimu karena siapa aku pada saat bersama denganmu.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/04/27/kata-bukan-cinta-laku-bukan-cinta.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta'>Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika mencari sumber cinta, ini lah yang kudapat</p>
<blockquote><p>Aku mencintaimu bukan hanya karena kamu apa adanya.<br />
Aku mencintaimu karena siapa aku pada saat bersama denganmu.</p></blockquote>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2009/03/12/i-love-you-because.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2009/03/12/i-love-you-because.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/04/27/kata-bukan-cinta-laku-bukan-cinta.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta'>Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2009/03/12/i-love-you-because.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bijak Dalam Perbuatan Baik</title>
		<link>http://nukilan.com/2008/03/12/batle-of-wisdom.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2008/03/12/batle-of-wisdom.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Mar 2008 15:48:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nukilan.com/2008/03/12/batle-of-wisdom.htm</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang menarik dari langganan di mailinglist motivasi, cetivasi dan resonansi. Beberapa hari lalu Cetivasi mengirimkan email yang berisi cerita kebijakan berjudul Kalejengking.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/08/16/jual-beli-celana-dalam.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jual Beli Celana Dalam'>Jual Beli Celana Dalam</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ada yang menarik dari langganan di mailinglist motivasi, cetivasi dan resonansi. Beberapa hari lalu Cetivasi mengirimkan email yang berisi cerita kebijakan berjudul Kalejengking. <span id="more-173"></span>Silahkan diserap maknanya:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p><strong>Kalajengking</strong></p>
<p><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2008/03/scorpion_1077-01.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-432" title="scorpion_1077-01" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2008/03/scorpion_1077-01-294x300.jpg" alt="scorpion_1077-01" width="294" height="300" /></a>Ada seorang pendeta India yang melihat  seekor kalajengking mengambang berputar-putar di air. Ia memutuskan untuk menolong kalajengking itu keluar dengan mengulurkan jarinya, tetapi kalajengking itu menyengatnya.</p>
<p>Orang itu masih tetap berusaha mengeluarkan kalajengking itu keluar dari air, tetapi binatang itu lagi-lagi menyengat dia.</p>
<p>Seorang pejalan kaki yang melihat kejadian itu mendekat dan melarang orang India itu menyelamatkan kalajengking yang terus saja menyengat orang yang mencoba menyelamatkannya.</p>
<p>Tetapi orang India itu berkata, &#8220;Secara alamiah kalajengking itu menyengat. Secara alamiah saya ini mengasihi. Mengapa saya harus melepaskan naluri alamiah saya untuk mengasihi gara-gara kalajengking itu secara alamiah menyengat saya?&#8221;</p>
<p>Jangan berhenti mengasihi,  Jangan menghentikan kebaikan anda,  Bahkan meskipun ketika orang-orang lain menyengat anda.</p>
<p>(From: Azret Batseba Lutaporu)</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Nah hari ini, saya menerima email motivasi lagi isinya hampir sama dengan cerita di atas. Silahkan simak:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p><strong>Pertapa Muda dan Kepiting</strong></p>
<p><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2008/03/MudCrabScylla_serrata.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-433" title="MudCrabScylla_serrata" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2008/03/MudCrabScylla_serrata-300x201.jpg" alt="MudCrabScylla_serrata" width="300" height="201" /></a>Suatu ketika di sore hari yang terasa teduh, tampak seorang pertapa  muda sedang bermeditasi di bawah pohon, tidak jauh dari tepi sungai.<br />
Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba perhatian  pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar  tidak beraturan.</p>
<p>Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera  melihat ke arah tepi sungai di mana sumber suara tadi berasal.</p>
<p>Ternyata, di sana tampak seekor kepiting yang sedang berusaha keras  mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian sungai sehingga  tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.</p>
<p>Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Karena itu, ia segera  mengulurkan tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat  tangan terjulur, dengan sigap kepiting menjepit jari si pertapa  muda. Meskipun jarinya terluka karena jepitan capit kepiting, tetapi  hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan si kepiting.</p>
<p>Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya. Belum lama  bersila dan mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang  sama dari arah tepi sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami  kejadian yang sama. Maka, si pertapa muda kembali mengulurkan  tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting demi  membantunya.</p>
<p>Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus  lagi. Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya  makin membengkak karena jepitan capit kepiting.</p>
<p>Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang  menghampiri dan menegur si pertapa muda, &#8220;Anak muda, perbuatanmu  menolong adalah cerminan hatimu yang baik. Tetapi, mengapa demi  menolong seekor kepiting engkau membiarkan capit kepiting melukaimu  hingga sobek seperti itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang  benda. Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka,  saya tidak mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa  menolong nyawa makhluk lain, walaupun itu hanya seekor kepiting,&#8221;  jawab si pertapa muda dengan kepuasan hati karena telah melatih  sikap belas kasihnya dengan baik.</p>
<p>Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut  sebuah ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang  terlihat kembali melawan arus sungai. Segera, si kepiting menangkap  ranting itu dengan capitnya. &#8220;Lihat Anak Muda. Melatih mengembangkan  sikap belas kasih memang baik, tetapi harus pula disertai dengan  kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong makhluk  lain, bukankah tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri.  Ranting pun bisa kita manfaatkan, betul kan?&#8221;</p>
<p>Seketika itu, si pemuda tersadar. &#8220;Terima kasih, Paman. Hari ini  saya belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai  dengan kebijaksanaan. Di kemudian hari, saya akan selalu ingat  kebijaksanaan yang Paman ajarkan.&#8221;</p>
<p>Pembaca yang budiman,  Mempunyai sifat belas kasih, mau memerhatikan dan menolong orang lain adalah perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada  anak kita, orangtua, sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun.  Tetapi, kalau cara kita salah, sering kali perhatian atau bantuan  yang kita berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi  bumerang. Kita yang tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya sekadar  berniat membantu, malah harus menanggung beban dan kerugian yang tidak perlu.</p>
<p>Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya diberikan dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan begitu, bantuan  itu nantinya tidak hanya akan berdampak positif bagi yang dibantu,  tetapi sekaligus membahagiakan dan membawa kebaikan pula bagi kita  yang membantu.</p>
<p>Salam sukses luar biasa!!!<br />
Andrie Wongso</p>
<p>Sumber: Pertapa Muda dan Kepiting oleh Andrie Wongso</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Ketika aku membaca cerita <strong>Pertapa Muda dan Kepiting oleh Andrie Wongso</strong>, aku teringat dengan cerita <strong>Kalejengking oleh Azret Batseba Lutaporu</strong>. Kesannya saling berbalas. Ya kebetulan yang kebetulan.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2008/03/12/batle-of-wisdom.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2008/03/12/batle-of-wisdom.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/08/16/jual-beli-celana-dalam.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jual Beli Celana Dalam'>Jual Beli Celana Dalam</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2008/03/12/batle-of-wisdom.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Keuntungan</title>
		<link>http://nukilan.com/2007/03/28/tentang-keuntungan.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2007/03/28/tentang-keuntungan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Mar 2007 03:27:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2007/03/28/tentang-keuntungan.htm</guid>
		<description><![CDATA[Diskusi Mencius dengan Raja Hui dari Liang dengan topik Mengapa Raja bicara tentang keuntungan?


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dari tahun ke tahun kita semua mengalami perubahan. Ada perubahan yang baik ada juga yang buruk. Dengan bertambahnya umur, kesibukan, kebutuhan dan lain-lain. Perubahan yang paling banyak menimpa kita adalah jika  hendak melalukan sesuatu, kita selalu berpikir &#8220;apa untungnya buatku&#8221;.<span id="more-125"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga begitu, ketika aku diminta untuk melakukan sesuatu aku bertanya kepada diriku, &#8220;Apa untungnya buatku?&#8221;. Aku sadar itu tidak baik mempertanyakan hal itu tapi gimana yah&#8230; Aku berusaha untuk tidak memikirkan keuntungan apa yang diperoleh diriku tapi harus pikirkan kepentingan secara universal. Tentu saja jangan sampai merugikan diri sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">So&#8230; mengapa tidak boleh bicara tentang keuntungan? Coba simak nukilan di bawah ini yang diambil dari buku: The Saying of Mencius</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengapa Raja bicara tentang keuntungan?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mencius pergi menghadap Raja Hui dari Liang. Raja Hui berkata: &#8220;Guru yang mulia, karena Anda datang dari jauh, saya kira Anda punya nasehat hebat yang akan menguntungkan kerajaan saya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mencius menjawab: &#8220;Mengapa Yang Mulia bicara tentang keuntungan? Orang seharusnya hanya bicara tentang kebaikan dan kejujuran. Jika seorang raja berkata, &#8216;Bagaimana kerajaanku bisa memperoleh keuntungan?&#8217;. Seorang yang terhormat akan berkata, &#8216;Bagaimana keluargaku bisa mendapat keuntungan?&#8217;. Orang biasa juga akan berkata, &#8216;Bagaimana aku bisa mendapatkan keuntungan?&#8217;. Maka setiap orang dari kalangan atas hingga bawah akan saling bertikai demi keuntungan dan negara akan terancam.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti seorang adipati dengan seribu kereta perang membunuh raja dengan sepuluh ribu kereta perang. Dan raja dengan seratus kereta perang membunuh adipati dengan seribu kereta perang. Seorang bisa puas memiliki seribu dari sepuluh ribu, atau seratus dari seribu, atau satu dari sepuluh. Tapi bila ia mengutamakan keuntungan daripada kebenaran, ia takan pernah puas sebelum mendapatkan segalanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebaikan yang agung berasal dari kebaikan dan kebenaran. Tak pernah ada orang baik yang mengabaikan orang tuanya. Tak pernah ada orang yang benar yang mengabaikan rajanya. Karena itu, Yang Mulia harus bicara tentang kebaikan dan kebenaran saja&#8230; Untuk apa Bicara tentang keuntungan?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika berbicara tentang keuntungan, orang memikirkan dirinya; tetapi orang yang baik dan benar akan memikirkan kebaikan bagi semua orang.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/03/28/tentang-keuntungan.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/03/28/tentang-keuntungan.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2007/03/28/tentang-keuntungan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asal Mula Cheng Beng</title>
		<link>http://nukilan.com/2007/03/20/asal-mula-cheng-beng.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2007/03/20/asal-mula-cheng-beng.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Mar 2007 11:07:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2007/03/20/asal-mula-cheng-beng.htm</guid>
		<description><![CDATA[Bakti kepada orang tua adalah dasar dari segala perbuatan. Yang paling utama adalah bakti saat orang tua masih hidup yaitu dengan berusaha membalas jerih payah mereka membersearkan kita. Saat orang tua telah meninggal dunia, kita mengenang dan mengingat kembali budi-budi mereka dan sekuat tenaga membalasanya.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_466" class="wp-caption alignleft" style="width: 206px"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2007/03/Ming-1368-Tai-Zu.jpg"><img class="size-medium wp-image-466" title="Ming-1368-Tai-Zu" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2007/03/Ming-1368-Tai-Zu-196x300.jpg" alt="Tai Zu" width="196" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Tai Zu</p></div>
<p>Diceritakan pada zaman Dinasti Ming ada seorang anak bernama Cu Guan Ciong (Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming) yang berasal dari sebuah keluarga yang sangat miskin. Dalam membesarkan dan mendidik Cu Guan Ciong, orangtuanya meminta bantuan kepada sebuah kuil.<span id="more-13"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Semakin dewasa, karma Cu Guan Ciong semakin baik. Sehingga ketika dewasa, Beliau menjadi seorang kaisar. Setelah menjadi kaisar, Cu Guan Ciong kembali ke desa untuk menjumpai orangtuanya. Sesampainya di desa ternyata orangtuanya telah meninggal dunia dan tidak diketahui keberadaan makamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian untuk mengetahui keberadaan makam orangtuanya, sebagai seorang kaisar, Cu Guan Ciong memberi tintah kepada seluruh rakyatnya untuk melakukan ziarah dan membersihkan  makam leluhur mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukan (5 April). Selain itu, diperintahkan juga untuk memberikan tanda kertas kuning di atas makam-makam tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah semua rakyat selesai berizarah, kaisar memeriksa makam-makam yang ada di desa dan menemukan makam-makam yang belum dibesihkan serta tidak diberi tanda. Kemudian kaisar menziarahi makam-makam tersebut dengan berasumsi bahawa di antara makam-makam tersebut pastilah merupakan makam orangtua, sanak keluarga, dan leluhurnya. Hal ini kemudian dijadikan tradisi untuk setiap tahunnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengapa Umat Buddha Juga Memperingati Cheng Beng?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Buddha mengajarkan bahwa bakti merupakan dasar utama yang perlu dijalani oleh seorang umat Buddha. Mengenang keluhuran budi orang tua dan leluhur yang telah tiada merupakan salah satu bentuk bakti yang dapat dilakukan oleh umat Buddha.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">Bakti kepada orang tua adalah dasar dari segala perbuatan. Yang paling utama adalah bakti saat orang tua masih hidup yaitu dengan berusaha membalas jerih payah mereka membersearkan kita. Saat orang tua telah meninggal dunia, kita mengenang dan mengingat kembali budi-budi mereka dan sekuat tenaga membalasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Disadur dari selebaran Upacara Peringatan Cheng Beng yang diterbitkan oleh Maitricittena, Ekayana Buddhist Center</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/03/20/asal-mula-cheng-beng.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/03/20/asal-mula-cheng-beng.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2007/03/20/asal-mula-cheng-beng.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran Cinta</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/05/09/lesson-of-love.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/05/09/lesson-of-love.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 May 2006 11:26:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nukilan.com/2006_05_09_lesson-of-love.html</guid>
		<description><![CDATA[Toshinobu Kubota, yang biasa dipanggil Shinji mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya di negerinya yang lama untuk mencari hidup yang lebih baik di Amerika. Ayahnya memberinya uang simpanan keluarga yang disembunyikan di dalam kantong kulit. &#8220;Di sini keadaan sulit,&#8221; katanya sambil memeluk putranya dan mengucapkan selamat tinggal. &#8220;Kau adalah harapan kami.&#8221;
Shinji naik ke kapal lintas Atlantik [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/04/27/kata-bukan-cinta-laku-bukan-cinta.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta'>Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/05/love-wallpaper262.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-429" title="love-wallpaper262" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/05/love-wallpaper262-300x225.jpg" alt="love-wallpaper262" width="300" height="225" /></a>Toshinobu Kubota, yang biasa dipanggil Shinji mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya di negerinya yang lama untuk mencari hidup yang lebih baik di Amerika. Ayahnya memberinya uang simpanan keluarga yang disembunyikan di dalam kantong kulit. &#8220;Di sini keadaan sulit,&#8221; katanya sambil memeluk putranya dan mengucapkan selamat tinggal. &#8220;Kau adalah harapan kami.&#8221;<span id="more-23"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Shinji naik ke kapal lintas Atlantik yang menawarkan transport gratis bagi pemuda-pemuda yang mau bekerja sebagai penyekop batubara sebagai imbalan ongkos pelayaran selama sebulan. Kalau Shinji menemukan emas di Pegunungan Colorado, keluarganya akan menyusul.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbulan-bulan Shinji mengolah tanahnya tanpa kenal lelah. Urat emas yang tidak besar memberinya penghasilan yang pas-pasan namun teratur. Setiap hari ketika pulang ke pondoknya yang terdiri atas dua kamar, Shinji merindukan dan sangat ingin disambut oleh wanita yang dicintainya. Satu-satunya yang disesalinya ketika menerima tawaran untuk mengadu nasib ke Amerika adalah terpaksa meninggalkan Asaka Matsutoya sebelum secara resmi punya kesempatan mendekati gadis itu. Sepanjang ingatannya, keluarga mereka sudah lama berteman dan selama itu pula diam-diam dia berharap bisa memperistri Asaka.</p>
<p style="text-align: justify;">Rambut Asaka yang ikal panjang dan senyumnya yang menawan membuatnya menjadi putri Keluarga Yoshinori Matsutoya yang paling cantik. Shinji baru sempat duduk di sampingnya dalam acara perayaan pesta bunga dan mengarang alasan-alasan konyol untuk singgah di rumahgadis itu agar bisa betemu dengannya. Setiap malam sebelum tidur di kabinnya, Shinji ingin sekali membelai rambut Asaka yang pirang kemerahan dan memeluk gadis itu. Akhirnya, dia menyurati ayahnya, meminta bantuannya untuk mewujudkan impiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kira-kira setahun kemudian, sebuah telegram datang mengabarkan rencana untuk membuat hidup Shinji menjadi lengkap. Pak Yoshinori Matsutoya akan mengirimkan putrinya kepada Shinji di Amerika. Putrinya itu suka bekerja keras dan punya intuisi bisnis. Dia akan bekerja sama dengan Shinji selama setahun dan membantunya mengembangkan bisnis penambangan emas. Diharapkan, setelah setahun itu keluarganya akan mampu datang ke Amerika untuk menghadiri pernikahan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Hati Shinji sangat bahagia. Dia menghabiskan satu bulan berikutnya untuk mengubah pondoknya menjadi tempat tinggal yang nyaman. Dia membeli ranjang sederhana untuk tempat tidurnya di ruang duduk dan menata bekas tempat tidurnya agar pantas untuk seorang wanita. Gorden dari bekas karung goni yang menutupi kotornya jendela diganti dengan kain bermotif bunga dari bekas karung terigu. Di meja samping tempat tidur dia meletakkan wadah kaleng berisi bunga-bunga kering yang dipetiknya di padang rumput.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, tibalah hari yang sudah dinanti-nantikannya sepanjang hidup. Dengan tangan membawa seikat bunga daisy segar yang baru dipetik, dia pergi ke stasiun kereta api. Asap mengepul dan roda-roda berderit ketika kereta api mendekat lalu berhenti. Shinji melihat setiap jendela, mencari senyum dan rambut ikal Asaka.Jantungnya berdebar kencang penuh harap, kemudian tersentak karena kecewa.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan Asaka, tetapi Yumi Matsutoya kakaknya, yang turun dari kereta api. Gadis itu berdiri malu-malu di depannya, matanya menunduk. Shinji hanya bisa memandang terpana. Kemudian, dengan tangan gemetar diulurkannya buket bunga itu kepada Yumi. &#8220;Selamat datang,&#8221; katanya lirih, matanya menatap nanar. Senyum tipis menghias wajah Yumi yang tidak cantik.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku senang ketika Ayah mengatakan kau ingin aku datang ke sini,&#8221; kata Yumi, sambil sekilas memandang mata Shinji sebelum cepat-cepat menunduk lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku akan mengurus bawaanmu,&#8221; kata Shinji dengan senyum terpaksa.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersama-sama mereka berjalan ke kereta kuda. Pak Matsutoya dan ayahnya benar. Yumi memang punya intuisi bisnis yang hebat. Sementara Shinji bekerja di tambang, dia bekerja di kantor. Di meja sederhana di sudut ruang duduk, dengan cermat Yumi mencatat semua kegiatan di tambang. Dalam waktu 6 bulan, asset mereka telah berlipat dua. Masakannya yang lezat dan senyumnya yang tenang menghiasi pondok itu dengan sentuhan ajaib seorang wanita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi bukan wanita ini yang kuinginkan, keluh Shinji dalam hati, setiap malam sebelum tidur kecapekan di ruang duduk. Mengapa mereka mengirim Yumi? Akankah dia bisa bertemu lagi dengan Asaka? Apakah impian lamanya untuk memperistri Asaka harus dilupakannya? Setahun lamanya Yumi dan Shinji bekerja, bermain, dan tertawa bersama, tetapi tak pernah ada ungkapan cinta. Pernah sekali, Yumi mencium pipi Shinji sebelum masuk ke kamarnya. Pria itu hanya tersenyum canggung. Sejak itu, kelihatannya Yumi cukup puas dengan jalan-jalan berdua menjelajahi pegunungan atau dengan mengobrol di beranda setelah makan malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu sore di musim semi, hujan deras mengguyur punggung bukit, membuat jalan masuk ke tambang mereka longsor. Dengan kesal Shinji mengisi karung-karung pasir dan meletakkannya sedemikan rupa untuk membelokkan arus air. Badannya lelah dan basah kuyup, tetapi tampaknya usahanya sia-sia. Tiba-tiba Yumi muncul di sampingnya, memegangi karung goni yang terbuka. Shinji menyekop dan memasukkan pasir kedalamnya, kemudian dengan tenaga sekuat lelaki, Yumi melemparkan karung itu ke tumpukan lalu membuka karung lainnya. Berjam-jam mereka bekerja dengan kaki terbenam lumpur setinggi lutut, sampai hujan reda. Dengan berpegangan tangan mereka berjalan pulang ke pondok.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menikmati sup panas, Shinji mendesah, &#8220;Aku takkan dapat menyelamatkan tambang itu tanpa dirimu. Terima kasih, Yumi.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sama-sama,&#8221; gadis itu menjawab sambil tersenyum tenang seperti biasa, lalu tanpa berkata-kata dia masuk ke kamarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari kemudian, sebuah telegram datang mengabarkan bahwa Keluarga Matsutoya dan Keluarga Kubota akan tiba minggu berikutnya. Meskipun berusaha keras menutup-nutupinya, jantung Shinji kembali berdebar-debar seperti dulu karena harapan akan bertemu lagi dengan Asaka. Dia dan Yumi pergi ke stasiun kereta api. Mereka melihat keluarga mereka turun dari kereta api di ujung peron.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Asaka muncul, Yumi menoleh kepada Shinji. &#8220;Sambutlah dia,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kaget, Shinji berkata tergagap, &#8220;Apa maksudmu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Shinji, sudah lama aku tahu bahwa aku bukan putri Matsutoya yang kau inginkan. Aku memperhatikan bagaimana kau bercanda dengan Asaka dalam acara Perayaan pesta bunga lalu.&#8221; Dia mengangguk ke arah adiknya yang sedang menuruni tangga kereta. &#8220;Aku tahu bahwa dia, bukan aku, yang kauinginkan menjadi istrimu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tapi&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yumi meletakkan jarinya pada bibir Shinji. &#8220;Ssstt,&#8221; bisiknya. &#8220;Aku mencintaimu, Shinji. Aku selalu mencintaimu. Karena itu, yang kuinginkan hanya melihatmu bahagia. Sambutlah adikku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Shinji mengambil tangan yumi dari wajahnya dan menggenggamnya. Ketika Yumi menengadah, untuk pertama kalinya Shinji melihat betapa cantiknya gadis itu. Dia ingat ketika mereka berjalan-jalan di padang rumput, ingat malam-malam tenang yang mereka nikmati di depan perapian, ingat ketika Yumi membantunya mengisi karung-karung pasir. Ketika itulah dia menyadari apa yang sebenarnya selama berbulan-bulan telah tidak diketahuinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tidak, Yumi. Engkaulah yang kuinginkan.&#8221; Shinji merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengecupnya dengan cinta yg tiba-tiba membuncah didalam dadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keluarga mereka berkerumun mengelilingi mereka dan berseru-seru, &#8220;Kami datang untuk menghadiri pernikahan kalian!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: unknown</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/05/09/lesson-of-love.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/05/09/lesson-of-love.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2009/04/27/kata-bukan-cinta-laku-bukan-cinta.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta'>Kata Bukan Cinta, Laku Bukan Cinta</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/05/09/lesson-of-love.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segelas Susu</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/05/09/segelas-susu.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/05/09/segelas-susu.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 May 2006 11:25:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nukilan.com/2006_05_09_segelas-susu.html</guid>
		<description><![CDATA[Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus diangsur seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi "Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu!" tertanda, Dr. Howard Kelly.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/05/kelly.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-446" title="kelly" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/05/kelly.gif" alt="kelly" width="181" height="216" /></a>Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar.  Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.<span id="more-24"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, &#8220;berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?&#8221; Wanita itu menjawab: &#8220;Kamu tidak perlu membayar apapun&#8221;. &#8220;Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan&#8221; kata wanita itu menambahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata : &#8220;Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Bertahun-tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter di kota itu sudah tidak sanggup menganganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dr. Howard dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata Dr. Howard. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut. Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan. Wanita itu sembuh! Dr. Howard meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Howard melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.</p>
<p style="text-align: justify;">Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus diangsur seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan yang berbunyi &#8220;Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu!&#8221; tertanda, Dr. Howard Kelly.</p>
<p style="text-align: justify;">Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: unknown</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/05/09/segelas-susu.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/05/09/segelas-susu.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/05/09/segelas-susu.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abraham Lincoln</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/05/09/abraham-lincoln.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/05/09/abraham-lincoln.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 May 2006 11:22:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nukilan.com/2006_05_09_abraham-lincoln.html</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah kisah klasik tentang Abe Lincoln yang dengan jelas membuktikan, bahwa kasih itu praktis, bahwa rekonsiliasi itu mungkin, dan bahwa pengampunan adalah obat penawar luka kemanusiaan yang paling mujarab. Kisahnya adalah ketika Abe melakukan kampanye kepresidenan. Saingannya yang paling utama adalah seorang yang bernama Stanton. Stanton ini sangat membenci Lincoln. Ia memakai setiap kesempatan sekecil apa pun untuk menjatuhkan musuhnya, kalau perlu dengan fitnah. Tapi akhirnya Abe yang terpilih.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/05/abraham-lincoln-picture.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-459" title="abraham-lincoln-picture" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/05/abraham-lincoln-picture-295x300.jpg" alt="abraham-lincoln-picture" width="295" height="300" /></a>Ada sebuah kisah klasik tentang Abe Lincoln yang dengan jelas membuktikan, bahwa kasih itu praktis, bahwa rekonsiliasi itu mungkin, dan bahwa pengampunan adalah obat penawar luka kemanusiaan yang paling mujarab.  Kisahnya adalah ketika Abe melakukan kampanye kepresidenan. Saingannya yang paling utama adalah seorang yang bernama Stanton. Stanton ini sangat membenci Lincoln. Ia memakai setiap kesempatan sekecil apa pun untuk menjatuhkan musuhnya, kalau perlu dengan fitnah. Tapi akhirnya Abe yang terpilih.<span id="more-22"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika tiba saatnya presiden terpilih tersebut menentukan susunan kabinetnya, ia membuat pembantu &#8211; pembantu terdekatnya terhenyak, terutama tatkala ia memilih Stanton sebagai menteri yang memegang posisi terpenting waktu itu, yaitu menteri peperangan. Penasihat demi penasihat bergantian mengingatkan Lincoln, memprotes pilihan sang presiden. Tapi Lincoln tetap pada pendiriannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap kenegarawanannya nampak sekali ketika ia berkata, &#8220;Ya, saya tentu mengenal Tuan Stanton, serta menyadari semua hal buruk yang pernah ia katakan mengenai saya. Tapi setelah mempertimbangkan kebaikan seluruh negara, saya tiba pada kesimpulan bahwa ialah orang yang paling baik untuk jabatan tersebut.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pilihan Lincoln terbukti tidak meleset. Stanton menjadi menteri yang paling baik, dan pembantu Lincoln yang paling setia. Ketika beberapa tahun kemudian, Abe mati terbunuh, dari semua komentar terbaik tentang Lincoln, komentar Stanton adalah yang terbaik. Ia berkata, &#8220;Lincoln akan tetap hidup dari masa ke masa,&#8221; &#8220;He now belongs to the ages.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kehebatan kuasa kasih juga diperlihatkan oleh Lincoln, dengan kata-katanya yang tetap lembut kepada lawan-lawannya, juga sewaktu permusuhan antara Utara dan Selatan sedang keras-kerasnya. Ketika seorang wanita bertanya, bagaimana ia dapat melakukannya, Abe menjawab, &#8220;Nyonya, bukankah aku justru menghancurkan musuh-musuhku, ketika aku mampu mengubah mereka menjadi teman?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: unknown</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/05/09/abraham-lincoln.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/05/09/abraham-lincoln.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/05/09/abraham-lincoln.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Kerang</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/05/09/anak-kerang.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/05/09/anak-kerang.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 May 2006 11:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nukilan.com/2006_05_09_anak-kerang.html</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.   &#8220;Anakku,&#8221; kata sang ibu sambil bercucuran air mata, &#8220;Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.&#8221; 
Si ibu terdiam, sejenak, &#8220;Sakit sekali, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/19/penculikan-anak-kecil.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Penculikan Anak Kecil'>Penculikan Anak Kecil</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/05/mutiara.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-448" title="mutiara" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/05/mutiara-300x230.jpg" alt="mutiara" width="300" height="230" /></a>Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.   &#8220;Anakku,&#8221; kata sang ibu sambil bercucuran air mata, &#8220;Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu.&#8221; <span id="more-20"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Si ibu terdiam, sejenak, &#8220;Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat&#8221;, kata ibunya dengan sendu dan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar. Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara, air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan &#8220;kerang biasa&#8221; menjadi &#8220;kerang luar biasa&#8221;. Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah &#8220;orang biasa&#8221; menjadi &#8220;orang luar biasa&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa&#8217; yang disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja&#8217;.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu&#8230; &#8220;Airmataku diperhitungkan Tuhan&#8230; dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara!&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">sumber: unknown</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/05/09/anak-kerang.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/05/09/anak-kerang.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/19/penculikan-anak-kecil.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Penculikan Anak Kecil'>Penculikan Anak Kecil</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/05/09/anak-kerang.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wortel, Telur, Dan Kopi</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/05/09/wortel-telur-dan-kopi.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/05/09/wortel-telur-dan-kopi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 May 2006 11:18:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nukilan.com/2006_05_09_wortel-telur-dan-kopi.html</guid>
		<description><![CDATA[Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul.  Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci [...]


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seorang anak perempuan mengeluh pada sang ayah tentang kehidupannya yang sangat berat. Ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan bermaksud untuk menyerah. Ia merasa capai untuk terus berjuang dan berjuang. Bila satu persoalan telah teratasi, maka persoalan yang lain muncul.  Lalu, ayahnya yang seorang koki membawanya ke dapur. Ia mengisi tiga panci dengan air kemudian menaruh ketiganya di atas api. Segera air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama dimasukkannya beberapa wortel Ke dalam panci kedua dimasukkannya beberapa butir telur. Dan, pada panci terakhir dimasukkannya biji-biji kopi. Lalu dibiarkannya ketiga panci itu beberapa saat tanpa berkata sepatah kata. <span id="more-19"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sang anak perempuan mengatupkan mulutnya dan menunggu dengan tidak sabar. Ia keheranan melihat apa yang dikerjakan ayahnya. Setelah sekitar dua puluh menit, ayahnya mematikan kompor. Diambilnya wortel-wortel dan diletakkannya dalam mangkok. Diambilnya pula telur-telur dan ditaruhnya di dalam mangkok. Kemudian dituangkannya juga kopi ke dalam cangkir. Segera sesudah itu ia berbalik kepada putrinya, dan bertanya: &#8220;Sayangku, apa yang kaulihat?&#8221; &#8220;Wortel, telur, dan kopi,&#8221; jawab anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang ayah membawa anaknya mendekat dan memintanya meraba wortel. Ia melakukannya dan mendapati wortel-wortel itu terasa lembut. Kemudian sang ayah meminta anaknya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah mengupas kulitnya si anak mendapatkan telur matang yang keras. Yang terakhir sang ayah meminta anaknya menghirup kopi. Ia tersenyum saat mencium aroma kopi yang harum. Dengan rendah hati ia bertanya &#8220;Apa artinya, bapa?&#8221; Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda telah merasakan penderitaan yang sama, yakni air yang mendidih, tetapi reaksi masing-masing berbeda. Wortel yang kuat, keras, dan tegar, ternyata setelah dimasak dalam air mendidih menjadi lembut dan lemah. Telur yang rapuh, hanya memiliki kulit luar tipis yang melindungi cairan di dalamnya. Namun setelah dimasak dalam air mendidih, cairan yang di dalam itu menjadi keras. Sedangkan biji-biji kopi sangat unik. Setelah dimasak dalam air mendidih, kopi itu mengubah air tawar menjadi enak.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yang mana engkau, anakku?&#8221; sang ayah bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ketika penderitaan mengetuk pintu hidupmu, bagaimana reaksimu? Apakah engkau wortel, telur, atau kopi?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan ANDA, sobat?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah Anda seperti sebuah wortel, yang kelihatan keras, tetapi saat berhadapan dengan kepedihan dan penderitaan menjadi lembek, lemah, dan kehilangan kekuatan?</p>
<p style="text-align: justify;">Apakah Anda seperti telur, yang mulanya berhati penurut? Apakah engkau tadinya berjiwa lembut, tetapi setelah terjadi kematian, perpecahan, perceraian, atau pemecatan, Anda menjadi keras dan kepala batu? Kulit luar Anda memang tetap sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit, tegar hati,serta kepala batu?</p>
<p style="text-align: justify;">Atau apakah Anda seperti biji kopi? Kopi mengubah air panas, hal yang membawa kepedihan itu, bahkan pada saat puncaknya ketika mencapai 100 C. Ketika air menjadi panas, rasanya justru menjadi lebih enak. Apabila Anda seperti biji kopi, maka ketika segala hal seolah-olah dalam keadaan yang terburuk sekalipun Anda dapat menjadi lebih baik dan juga membuat suasana di sekitar Anda menjadi lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana cara Anda menghadapi penderitaan? Apakah seperti wortel, telur, atau biji kopi?</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: unknown</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/05/09/wortel-telur-dan-kopi.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/05/09/wortel-telur-dan-kopi.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/05/09/wortel-telur-dan-kopi.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

