<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nukilan Hidup &#187; buku. gajah mada</title>
	<atom:link href="http://nukilan.com/tag/buku-gajah-mada/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nukilan.com</link>
	<description>Ketika petikan kata-kata menjadi sebuah blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2009 14:07:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Gajah Mada: Madakaripura Hamukti Moksa</title>
		<link>http://nukilan.com/2007/04/22/gajah-mada-madakaripura-hamukti-moksa.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2007/04/22/gajah-mada-madakaripura-hamukti-moksa.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2007 07:52:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku. gajah mada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2007/04/22/gajah-mada-madakaripura-hamukti-moksa.htm</guid>
		<description><![CDATA[Lakon Gajah Mada telah pula sampai di ujungnya. Tragedi Bubat telah melukai begitu banyak pihak dan berdampak sangat luas. Prabu Hayam Wuruk terluka karena cintanya yang sedang mekar tiba-tiba dihadapkan pada maut. Keluarga Raja Majapahit terluka karena akar sejarahnya yang begitu dekat dengan Sunda Galuh mendadak dipangkas dengan paksa. Sunda Galuh adalah pihak yang paling terluka, bukan saja karena harga diri yang dilecehkan tanpa ampun, melainkan juga karena semangat perdamaian, harapan, dan kepercayaan mereka terhadap Majapahit dinodai hingga titik paling hitam.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2007/04/gajahmada5.jpg"><img class="size-full wp-image-381 alignleft" title="gajahmada5" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2007/04/gajahmada5.jpg" alt="gajahmada5" width="136" height="200" /></a>Terimakasih kepada Langit Kresna Hariadi, karena telah membawa Indonesia lebih mengenal bangsanya sendiri melalui cerita fiksi Gajah Mada. <span id="more-152"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kata Pengantar Penerbit</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Betapapun panjang sebuah perjalanan, pasti akan sampai juga pada titik akhir. Betapapun sempurna keindahan mentari pagi di ufuk timur, betapapun garang ia membakar bumi tepat di siang hari, ketika senja membayang, toh ia harus tenggelam juga.</p>
<p style="text-align: justify;">Lakon Gajah Mada telah pula sampai di ujungnya. Tragedi Bubat telah melukai begitu banyak pihak dan berdampak sangat luas. Prabu Hayam Wuruk terluka karena cintanya yang sedang mekar tiba-tiba dihadapkan pada maut. Keluarga Raja Majapahit terluka karena akar sejarahnya yang begitu dekat dengan Sunda Galuh mendadak dipangkas dengan paksa. Sunda Galuh adalah pihak yang paling terluka, bukan saja karena harga diri yang dilecehkan tanpa ampun, melainkan juga karena semangat perdamaian, harapan, dan kepercayaan mereka terhadap Majapahit dinodai hingga titik paling hitam.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana dengan Gajah Mada? Gajah Mada ditempatkan sebagai pihak paling bersalah atas tragedi itu. Ia dihujat, dicaci, dan dicela. Namun, sesungguhnya sang legendaris ini juga merasa terluka. Ia terluka karena merasa kerja kerasnya selama dua puluhan tahun lebih pada akhirnya tak ada harganya sama sekali. Segala pengorbanan yang ia berikan untuk dapat menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah panji-panji Majapahit justru gagal di langkah terakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, tak peduli betapapun kecewa Gajah Mada mendapati kenyataan cita-citanya tak terwujud secara sempurna, ia tetap bersalah telah menyebabkan ratusan orang terbantai. Ia bersalah telah mengubah lengkung janur kuning menjadi ratap perkabungan. Gajah Mada pun harus menerima hukumannya. la dihempaskan dari dhamparkepatihan dan harus melewati hari tua di Madakaripura, sebuah tempat terpencil dan jauh dari segala ingar-bingar urusan duniawi.</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi, sekali lagi sejarah membuktikan bahwa nama besar Gajah Mada bukan isapan jempol belaka. Sepeninggal Gajah Mada, Majapahit mulai dilanda berbagai persoalan. Persoalan terbesar adalah ancaman disintegrasi. Tanpa Gajah Mada, negara-negara bawahan Majapahit tak lagi takut memperjuangkan kemerdekaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan, Prabu Haym Wuruk akhirnya harus kembali mengandalkan Gajah Mada. Setelah setahun menyepi di Madakaripura, Gajah Mada dipanggil untuk menduduki jabatannya kembali. Hanya saja, semua ada masanya. Sepertinya, puncak kejayaan memang sudah saatnya berlalu dari Majapahit karena Gajah Mada tetaplah manusia biasa. Gajah Mada tidak mungkin dapat membendung laju sang waktu. Gajah Mada tidak mungkin pula dapat melawan kodrat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari tiada menjadi ada, lalu kembali ke tiada. Semua yang hidup pasti berujung pada kematian. Begitulah yang bakal terus terjadi. Gajah Mada dengan segala romantika dan gegap gempitanya usai sudah. Drama Majapahit adalah cermin yang merefleksikan betapa tidak ada manusia yang sempurna, seorang Gajah Mada sekalipun, bahwa hidup tidak berhenti pada satu titik, bahwa ambisi harus dikendalikan, dan bahwa kerendahan hati mesti dimiliki.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih tak terhingga kami sampaikan kepada pembaca sekalian yang telah begitu setia mengikuti perjalanan Gajah Mada hingga di ujungnya ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiga Serangkai</p>
<p style="text-align: justify;">Selalu ada cerita dibalik cerita. Ada beberapa pengalaman menarik dari Langit Kresna Hariadi (nice name, aku jadi iri dengan beliau) yang didapat dari penulisan buku seri Gajah Mada. Simak kata pengantar dari penulis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kata Pengantar Dari Penulis</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ada banyak kisah di balik proses kreatif yang saya lakukan dalam penulisan buku seri Gajah Mada yang Anda baca selama ini, mulai dari yang menyebalkan hingga yang menggugah semangat, dari yang mengharukan sampai yang menyentuh permukaan hati. Email saya dipenuhi banyak masukan, saran, kritik, dan hal-hal yang sungguh indah serta tidak terduga seperti yang saya ceritakan berikut ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang pengirim email yang tidak perlu saya sebut namanya, mengaku terpesona pada beberapa kutipan bahasa Jawa yang saya gunakan. Memang saya menulis kalimat sasadara manjer kawutyan, yang artinya lebih kurang adalah bulan bersinar tampak jelas wujudnya. Rangkaian kalimat itu agaknya menjadi penyebab seorang perempuan yang sedang hamil tua merasa gelisah. Perempuan yang sudah tahu anaknya akan lahir berjenis kelamin sama dengan dirinya itu merengek kepada sang suami tercinta agar anaknya nanti diberi nama Sasadara Manjer Kawuryan.</p>
<p style="text-align: justify;">Didorong oleh cinta yang sedemikian besar kepada sang istri, sang suami pun mengirim surat elektronik meminta izin kepada saya. Rupanya, ia amat menghormati saya sebagai pemilik kalimat itu tak ubahnya hak cipta. &#8220;Kalau diizinkan terima kasih, kalau tidak boleh tidak apa-apa,&#8221; demikian isi suratnya. Tanpa harus menunggu lama untuk menimbang, tidak hanya izin, restu pun saya berikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut penulis email itu selanjutnya, orang tuanya dan keluarganya sampai terkaget-kaget mendapati bayi itu diberi nama aneh itu. Saya pun tidak sulit menebak, setelah berjuang keras menghubungi saya, orang tua bayi itu masih harus berjuang keras menjelaskan kepada kerabatnya atau siapa pun yang mempersoalkan nama tersebut. Dalam pelepasan buku saya, Gajah Mada, Perang Bubat di Jakarta akhir 2006 lalu, ayah bayi itu hadir. Saya pun memberi ucapan selamat dengan sebuah pelukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak hanya orang tua muda dari Jakarta ini, seorang pengirim email lain pun menandai anak gadisnya dengan nama Ardhanareswari. Itu adalah gelar Ken Dedes sebagai perempuan utama yang melahirkan raja-raja. Setelah nama yang ia anggap indah itu berhasil tercatat di akte kelahiran anaknya, baru ia mengabari saya. Saya senang mendengar itu dan saya ucapkan selamat pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu, seorang perempuan dari Jember, ia mengaku berprofesi sebagai bidan. Ia sering kelimpungan jika dimintai bantuan memberi nama anak yang lahir selamat lewat bantuannya. Bidan itu tidak tanggung-tanggung minta dibuatkan langsung dua puluh lima buah nama. Maka, seperti ketika saya menyiapkan sederet nama sebelum pengerjaan sebuan novel, kali itu saya lakukan pula untuk sebuah alasan berbeda.</p>
<p style="text-align: justify;">Melayani pembaca dalam pertemuan secara langsung sungguh menyenangkan hati. Itu yang saya rasakan ketika waktu berjalan terasa sangat cepat dalam peluncuran buku Gajah Mada, Perang Bubat, di Jakarta Hilton Convention Centre akhir tahun 2006 itu. Saya layak bersyukur karena semua apresiasi, semua pertanyaan dan tanggapan itu bisa saya jawab dengan amat baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, pertanyaan yang sangat menggelisahkan hati justru datang dari sebuah acara diskusi yang digelar di Universitas Parahyangan, Bandung, beberapa hari menjelang tutup tahun 2006. Itu terjadi karena buku saya bertemakan Perang Bubat. Tersadarlah saya tengah memasuki Bandung. Itu berarti, saya harus ekstra hati-hati dalam berbicara mengingat saya seperti memasuki kandang macan. Pertanyaan itu datang dari salah seorang peserta yang menyoal kambing hitam yang dimunculkan pengarang terkait perang di lapangan Bubat.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tegaskan dalam acara diskusi itu dan saya tegaskan pula lewat kata pengantar buku ini bahwa saya sama sekali tak berniat membelokkan sejarah. Apa yang saya tulis masih berada di koridor jurnalistik. Insya Allah saya menulis berimbang antara bagaimana sikap dan sudut pandang Gajah Mada dengan bagaimana sikap dan sudut pandang Raja Sunda Galuh serta semua pihaknya. Cek dan ricek saya lakukan melalui riset berat dengan mewawancari banyak pihak.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemunculan orang-orang di sekitar Gajah Mada yang memberi sumbangsih ikut menjerumuskan Gajah Mada bukanlah pembelokan, bukan pula memunculkan kambing hitam. Namun, semata-mata berdasar logika sederhana bahwa di pusat kekuasaan pasti ada tarik ulur. Ada yang setuju dan ada yang tak setuju, ada yang mendukung membabi buta dan ada pihak yang berusaha mencegah mati-matian. Yang setuju pun bisa berlebihan dalam rangka mencari muka sehingga bias pun sangat mungkin terjadi. Sabotase perkawinan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka saya yakini muncul tidak sekadar karena Gajah Mada ingin Dyah Pitaloka dibawa ke Majapahit sebagai persembahan. Namun, gagasan menggagalkan perkawinan itu bisa berasal dari orang-orang di sekeliling Gajah Mada. Yang demikian itu bukan pembelokan dan bukan dalam rangka memunculkan kambing hitam.</p>
<p style="text-align: justify;">Perang Bubat agaknya merupakan isu yang sangat peka. Perang di lapangan Bubat telah lewat ratusan tahun yang lalu. Namun, dendam dari kisah lama itu masih terlihat jejaknya hingga sekarang. Warisan emosional itu rupanya masih terjaga, entah kapan akan pudar. Kisah itu menimbulkan banyak mitos buruk, di antaranya adalah sebaiknya perempuan Sunda jangan mau diperistri orang Jawa. Semangat dari penulisan Gajab Mada,</p>
<p style="text-align: justify;">Perang Bubat yang saya lakukan, di antaranya adalah agar generasi kini dan seterusnya mampu dengan bijak menyikapi kejadian itu, lalu menempatkannya dalam laci sejarah semata, tanpa harus membuat episode lanjutannya.<br />
Buku kelima yang menutup rangkaian serf Gajah Mada ini saya beri judul Gajab Mada, Madakaripura Hamukti Moksa. Penulisan buku ini bisa dibilang pekerjaan ringan, tetapi melelahkan. Semangat untuk terus berkarya tak selalu mulus. Saya sering kehilangan mood. Namun, alhamdulillah, berkat dorongan sahabat-sahabat saya, Gajah Mada, Madakaripura Hamukti Moksa tuntas saya tutup dengan akhir yang kembali mengejut, insya Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tak menyangka, seri Gajah Mada ternyata mendapat apresiasi yang amat baik. Saya lihat itu dari banyaknya tanggapan yang masuk, baik di email maupun dari tetap bertahannya (dalam dua tahun ini) serial Gajah Mada di rak-rak buku laris toko buku Gramedia di seluruh Indonesia. Saya merasa semua itu bukan karena saya, melainkan lebih oleh apresiasi para pembaca. Untuk itu, perkenankanlah saya menyampaikan banyak terima kasih. Saya bukan apa-apa tanpa Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Email saya tidak berubah. Saya tetap berada di Langit kresna_ hariadi (@) yahoo.com, de_manyul (@) yahoo.co.id, langitkresnahariadi (@) yahoo.co.id. Saya persilakan Anda menjadikan tiga alamat itu sebagai recycle bin untuk apa saja, untuk saran, tanggapan, atau caci maki.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam menutup buku ini, saya sampaikan banyak terima kasih kepada kakak saya, Lintang Waluyo, yang tak pernah surut memberi dorongan dalam bentuk gagasan, Dr. Mega Teguh Budiarto dan Drs. Moedjiono Santosa, masing-masing di UNESA Surabaya, juga Drs. Mendung Slamet Budiono di Denpasar yang telah berkenan menjadi proof reader buku-buku saya, juga kepada Bapak Luluk Sumiarso, Dirjen Migas yang apresiasi beliau membuat saya tersipu-bukan karena apresiasinya yang menyebabkan saya harus berterima kasih, melainkan ajakan main ketoprak di TIM Jakarta yang membuat saya terbungkuk-bungkuk karena sungguh itu pengalaman dan kesempatan langka-pentas ketoprak itu terjadi pada tanggal 2 Februari 2007.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih juga untuk istri saya, Rina Riyantini Langit, yang tiap pagi dengan bijak membiarkan saya bangun kesiangan tanpa harus marah, lalu Poundra Swasty Ratu dan Amurwa Pradnya Sang Indraswari yang menjadikan hidup di rumah yang sempit itu menjadi begitu meriah.</p>
<p style="text-align: justify;">Penulis</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/04/22/gajah-mada-madakaripura-hamukti-moksa.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2007/04/22/gajah-mada-madakaripura-hamukti-moksa.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2007/04/22/gajah-mada-madakaripura-hamukti-moksa.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

