<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nukilan Hidup &#187; Pramoedya Ananta Toer</title>
	<atom:link href="http://nukilan.com/tag/pramoedya-ananta-toer/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nukilan.com</link>
	<description>Ketika petikan kata-kata menjadi sebuah blog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Oct 2009 14:07:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>PLAYBOY INTERVIEW: PRAMOEDYA ANANTA TOER</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/10/04/playb0y-interview-pramoedya-ananta-toer.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/10/04/playb0y-interview-pramoedya-ananta-toer.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Oct 2006 11:28:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2006/10/04/playboy-interview-pramoedya-ananta-toer.htm</guid>
		<description><![CDATA[KELAHIRAN 6 Februari 1925 ini amat mengimani kerja. Menganggap kerja sebagai eksistensi abadi bagi manusia. Dan di hati Pramoedya Ananda Toer kerja adalah menulis. Maka menulislah ia. Dalam Rumah Kaca Pram pernah mencatat: '.. gairah kerja adlalah pertanda daya hidup, selama orang tak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut...' Merokok tanpa putus sejak umur 15 tahun, lahirlah tetralogi yang legendaris itu [Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah]. Juga judul judul seperti Mangir, Arok Dedes, Arus Batik, Nyanyi Sunyi SeorangBisu dan banyak lagi. Semuanya memiliki kesamaan: menggetarkan dunia. Nominasi Nobel bidang sastra beberapa kali mencatat namanya.


No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote style="text-align: justify;"><p>Sosok kontroversial yang membawa nama Indonesia ke peta sastra dunia ini bercerita soal hiruk pikuk hidupnya adalah tantangan sport, perempuan Cina, dan nikmatnya membakar sampah.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/10/260566803_3e15877883_m.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-363" title="260566803_3e15877883_m" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/10/260566803_3e15877883_m.jpg" alt="260566803_3e15877883_m" width="240" height="114" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">KELAHIRAN 6 Februari 1925 ini amat mengimani kerja. Menganggap kerja sebagai eksistensi abadi bagi manusia. Dan di hati Pramoedya Ananda Toer kerja adalah menulis. Maka menulislah ia. Dalam Rumah Kaca Pram pernah mencatat: &#8216;.. gairah kerja adlalah pertanda daya hidup, selama orang tak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut&#8230;&#8217; Merokok tanpa putus sejak umur 15 tahun, lahirlah tetralogi yang legendaris itu [Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah]. Juga judul judul seperti Mangir, Arok Dedes, Arus Batik, Nyanyi Sunyi SeorangBisu dan banyak lagi. Semuanya memiliki kesamaan: menggetarkan dunia. Nominasi Nobel bidang sastra beberapa kali mencatat namanya. <span id="more-102"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pengalaman hidupnya seolah ditakdirkan dramatis [layaknya orang-orang besar]. Pernah jadi pihak yang menekan saat Lekra [Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi kesenian underbow PKI] berjaya. Lantas tersuruk jadi tahanan politik selama 14 tahun 2 bulan tanpa pengadilan disusul status tahanan rumah. Juga menyaksikan dengan sesak karya dan harta literaturnya dibakar militer [sampai kini dia masih tak mengerti, karena merasa dasarnya menulis adalah satu: kermanusiaan]. Pun pelarangan terhadap tulisan-tulisannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karya-karya Pram tak banyak mengutak-atik keindahan bahasa, longgar, dan kerap kelam meski tengah mengekspresikan keriaan hidup, seperti seks. Dalam penutup satu bab di Bumi Manusia, Pram menulis perasaan Minke tentang persetubuhannya dengan Annelies: &#8220;Aku balas pelukannya. Dan tiba-tiba jantungku berdeburan diterpa angin timur. Satu ulangan telah memaksa kami jadi sekelamin binatang purba, sehingga akhirnya kami tergolek. Sekarang gumpalan hitam tidak memenuhi antariksa hatiku. Dan kami berpelukan kembali seperti boneka kayu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai penulis Pram menganggap keindahan terletak pada kemanusiaan, perjuangan untuk kemanusiaan dan bebas dari penindasan. Bukan dalam mengutak-atik bahasa.</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Sejarah Indonesia itu sejarah angkatan muda. Jangan lupa itu! Sejak tahun belasan, di negeri Belanda, menjalar ke Indonesia. Puncaknya di Sumpah Pemuda. Itu titik tolak negara kita.</p>
<p>Ayah saya Direktur Sekolah Boedi Oetomo. Saya sekolah di situ. Untuk tamat tujuh kelas, saya memerlukan sepuluh tahun. Tahu perasaan dia terhadap anaknya? Mengecewakan lah.</p>
<p>Tidak punya dendam saya. Kalo punya dendam jadi beban lagi. Saya kehilangan apa saja, tidak merasa kehilangan. Rumah dirampas, perpustakaan dibakar, delapan naskah dibakar.</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Pengagum sastrawan Gunther Grass dan John Steinbeck ini mengaku begitu produktif berkarya karena merasa tidak akan berumur panjang. Kenyataannya pada usia 81 tahun dia masih mengepulkan asap rokok saat ditemui Feature Editor PLAYBOY Alfred Ginting dan Soleh Solihun, di rumahnya yang asri, di kawasan Bojong Gede, Jawa Barat. PLAYBOY ditemani Happy Salma yang sore itu membawakan sebotol wine untuk penulis yang dikaguminya itu. Setiap malam Pram menenggak satu dua sloki wine demi kesehatan jantungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang sudah-sudah wawancara ini kembali banyak menjelajah sikap politik Pram, tidak seperti keinginan kami untuk membongkar sikap sastranya. Pram sulit diajak untuk mengomentari karya-karyanya. Pram menganggap karya-karya itu sebagai anak-anak jiwanya. Mereka bebas terbang lepas setelah didewasakan oleh pena dan mesin tiknya. Selain itu usia membuat Pram berjarak dengan masa lalu kepengarangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di rumah &#8211; hasil dari royalti bukunya yang telah diterjemahkan ke 42 bahasa &#8211; Pram tak lagi banyak bekerja. Sudah sepuluh tahun dia tidak menulis, semangatnya dipatahkan umur tubuhnya. Saban hari dia bangun jam lima pagi, mengumpulkan kliping berita koran bertema geografi untuk cita-citanya yang tidak akan terwujud &#8211; menyusun apa yang dia sebut Ensiklopedi Kawasan Indonesia, sesekali menerima tamu, melihat-lihat ternak ayam dan angsanya, dan membakar sampah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada meja bundar di ruang tamu rumahnya, Prain menjawab pertanyaan PLAYBOY. Di meja itu bertumpuk sejumlah buku. Yang menarik perhatian adalah fotokopi novel Gulat di Djakarta yang akan diterbitkan kernbali oleh penerbit Lentera Dipantara. Pram mengenakan polo shirt lusuh, celana training biru dan sandal jepit. Kaos kaki sepakbola berwarna hijau menutup ujung kaki celananya. &#8220;Dingin kaki saya,&#8221; kata dia. Pram masih menunjukkan kekukuhan dalam argumentasi dan pemakluman atas sikapnya. Seperti tentang pendiriannya terhadap Soekarno sebagai pemimpin yang berhasil mempersatukan bangsa Nusantara tanpa meneteskan darah. Padahal di zaman rezim Soekarno dia ditahan karena menulis Hoakiau di Indonesia. &#8220;Yang memenjarakan saya itu militer. Bukan Soekarno,&#8221; tegasnya.</p>
<hr style="text-align: justify;" />
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Di film Jalan Raya Pos, Anda mengatakan tidak yakin akan berumur panjang. Ternyata, sekarang berumur 81 tahun, bagaimana perasaan Anda?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAMOEDYA:</strong> Tahun &#8216;50, TBC mcmbunuh ayah, ibu, adik, nenek, ipar, kemenakan saya. Waktu itu belum ada obatnya. Yang tahu, obatnya kapur saja. Untuk menutupi luka. Jadi, sudah sejak sangat muda, sudah berhadapan dengan maut. Dan saya sebagai anak tertua dengan tujuh adik menanggung semuanya.<br />
Ada seorang professor mengatakan, &#8216;Kau nanti juga kena [TBC].&#8217; Tapi ternyata, sampai sekarang nggak ada apa-apa. Saya nggak ada penyakit parah, cuma kesulitannya kalau nggak bisa tidur, itu lantas jatuh, drop saja. Nggak pernah menyangka. Keluarga saya praktis mati karena TBC. Saya nggak pernah ketularan. Sepanjang hidup saya heran, kok bisa sampai 81.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Masih punya mimpi?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Saya nggak punya mimpi apa-apa. Masalah saya sekarang, hanya mati saja. Saya sudah sepuluh tahun nggak menulis. Juga nggak jawab surat. Ini sudah nggak bekerja [menunjuk kepala]. Sudah pikun.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Mimpi untuk menuliskan kembali proyek yang dulu sempat dimusnahkan, seperti Ensiklopedi Indonesia?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Ya, kliping saya sudah 8 meter panjangnya. Tapi biayanya melanjutkannya nggak ada. Nggak ada pemasukan yang beres. Paling sedikit lima orang diperlukan. Kalau satu orang dua juta, sepuluh juta satu bulan. Dari mana sumbernya? [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Anda angkatan&#8217;45. Kalau nanti dimakamkan di Taman Makam Pahlawan bagaimana?<br />
<strong>PRAM:</strong> Ah saya nggak mengharapkan begitu-begituan. Mau dibakar kek, mau dibuang kek, nggak soal.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Anda siap menghadapi kematian?<br />
<strong>PRAM:</strong> Sejak muda, saya siap mati di manapun dan kapan pun. Nggak ada soal. Jadi, nggak punya beban tentang mati.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Tidak ada yang Anda lakuti dalain hidup?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Saya anggap sebagai tantangan sport. Tidak punya dendam saya. Kalo punya dendam jadi beban lagi. Dianggap berani atau nggak, saya nggak tahu [tertawa]. Saya kehilangan apa saja, tidak merasa kehilangan. Rumah dirampas, perpustakaan dibakar, delapan naskah dibakar. Ini sampai rumah dijaili. Apanya yang salah, saya tidak tahu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Kadar gula Anda masih tinggi?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Oh, gula saya memang tinggi. 460. Tapi saya obati dengan bawang putih. Setiap suap makan, gigit bawang putih, jadi semua luka kering sendiri. Jadi, dagingnya nggak membusuk.  Dan saya anjurkan itu untuk yang sakit gula. Saya kan juga latihan pernafasan kalau mau tidur. Tarik nafas sampai penuh, tambah lagi. Itu sportnya. Tahan baru buang. Belajar dari pengalaman saja. Mulai umur belasan tahun, setelah pisah dari keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">HAPPY SALMA: Anda sepertinya punya harapan besar terhadap generasi muda?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Betul. Soalnya sejarah Indonesia itu sejarahnya angkatan muda. Jangan lupa itu! Sejak tahun belasan, di negeri Belanda, menjalar ke Indonesia. Puncaknya di Sumpah Pemuda. Itu titik tolak jadinya negara kita. Saya anjurkan yang punya perhatian pada sejarah, susunlah sejarah Sumpah Pemuda sampai jadi buku wajib. Sejarah Indonesia, praktis nggak karuan diajarkannya. Saya percaya, sejarah Indonesia itu sejarah angkatan muda. Angkatan tua itu jadi beban.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Tapi sejarah Indonesia akhir-akhir ini harus diwarnai ancaman disintegrasi, seperti keinginan masyarakat Aceh dan Papua untuk memisahkan diri?<br />
<strong>PRAM:</strong> Itu memang dialektika sejarah. Kalau ada yang baik, ada yang buruk. Ada persatuan, ada perpecahan. Hidup berkembang bersama-sama pasti ada yang namanya dialektika.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Soal gerakan pemuda, Anda sempat bergabung dengan PRD [partai Rakyat Demokratik]. Sementara, gerakan pemuda sekarang terlihat melempem. PRD sendiri lidak terlihat arah organisasinya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Itu pimpinannya. Ketua organisasi itu, harus hidup, tumbuh, berkembang hersama partainya. Ini ketuanya [Budiman Soedjatmiko] lari, masuk ke PDI. Dia mesti mimpin partainya, ini malah sekolah ke Inggris. Sckolah itu kan Jalan untuk jadi pegawai. Untuk mimpin partai nggak perlu sekolah. Bangkit, jatuh, bangun, berkembang bersama partainya. Yang benar itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Tapi pendidikan dianggap penting bagi kepemimpinannya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Ah tidak. Kepemimpinan ya dari partainya itu, berpengalaman sejak awal sampai berkembang. Itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Menjadi pemimpin partai itu nggak perlu sekolah. Belajar dari keadaan. Sekolah saya, SMP kelas 2 nggak tamat, tapi kok jadi doktor? [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Anda pernah menyebut Jimmy Carter berperan dalam pembebasan Anda. Itu bagaimana ceritanya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Itu Carter meminta supaya tahanan Pulau Buru dibebaskan. Kalau nggak, bantuan Amerika akan dihentikan untuk Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Jadi, bisa dibilang Anda diselamatkan Amerika?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Ya memang Amerika. Tapi juga Amcrika juga yang waktu Presiden Enisenhower yang memerintahkan supaya Soekarno disingkirkan. Eisenhower ngomong begitu setelah babak belur di Vietnam. Ada masalahnya itu. Lantas dia perintahkan, singkirkan Soekarno! [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Anda sudah beberapa kali disebut sebagai kandidat Nobel, tapi belum jadi kenyataan juga.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Yang jadi kandidat itu kan empat orang yang terakhir. Satu orang dapat, saya nqgak. Saya nggak tahu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Apa itu ada hubungannya dengan sikap politik Anda dulu sebagai tokoh Lekra?<br />
<strong>PRAM:</strong> Itu hak saya punya pandangan politik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Tidak pernah berpikir, kalau mendapat Nobel itu bentuk pencapaian Anda sebagai penulis?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Kalau dapat itu, berarti penghargaan dunia. Itu saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Tidak pernah bermimpi, ingin dapat Nobel sebelum meninggal?<br />
<strong>PRAM:</strong> Nggak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Jadi, penghargaan tertinggi dalam hidup buat seorang Pram?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Penghargaan sudah saya dapat di mana-mana. Orang baca karya saya saja, sudah suatu penghargaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Dari semua karya Anda, yang merupakan pencapaian terbesar yang mana?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Nggak tahu saya. Itu publik yang menentukan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Dalam karya Anda, banyak figur perempuan yang menentang garis. Itu memang gambaran Anda tentang figur perempuan modern?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Itu inspirasi dari ibu saya sendiri. Ibu saya meninggal sangat muda, umur 34. Suatu kali, waktu saya masih di SD, panen jagung di luar kota, saya dipanggil ibu. Kalau serius, ibu saya ngomongnya dalam bahasa Belanda. Jauh lebih bagus dari saya. Dia pesan, &#8216;Engkau nanti harus belajar di Belanda sampai doktor.&#8217; Itu beliau ngomong waktu saya masih SD dan miskin sekali. Itu pesannya. &#8216;Jangan sampai kau minta-minta sama orang. Pada siapapun! Jangan minta-minta. Selesaikan tugas dan kerjamu dengan tenagamu sendiri. Jangan minta-minta bantuan!&#8217; Itu pesan ibu saya. Kenyataannya lain. Lulus SD, masuk SMP, Jepang datang, bahasa Inggris dilarang. Sampai [kelas] 2 SMP saya sekolah, itu pun nggak tamat, karena dibubarkan Jepang. Jadi, nggak pernah mendapat pendidikan bahasa Inggris. Setelah Jepang pergi, saya nggak bisa ke perguruan tinggi. Bahasa Inggrisnya tidak bisa [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Di masa itu apa artinya jadi doktor?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Ilmu pengetahuan. Jadi mencukupi sebagai orang terpelajar. Kalau belum dapat gelar, ya belum [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Tokoh Minke dibuat berdasarkan riset Anda tcrhadap tokoh pers Tirtoadisuryo. Apa tokoh perempuan di sekitarnya memang dinspirasi dari perempuan di dunia kenyataan?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Itu simbolik saja. Supaya jadi anutan pembacanya. Saya mengharapkan wanita itu lebih maju daripada sekarang ini. Karena dia yang mendidik bangsa. Waktu saya masih kanak-kanak, ibu-ibu itu memproduksi. Ada yang membatik, ada yang nenun, bikin sabun segala macam. Kok, sekarang nggak ada? Tidak berproduksi wanita, tampaknya ya. Waktu saya kecil, ibu saya nenun, bikin batik, segala macam, buat kecap, sabun, dijual. Jarang terjadi sekarang ini di rumahtangga. Sehingga jadi bangsa yang konsumtif, tidak produktif. Akibatnya melahirkan benua korupsi. Malah orang menjadi kuli. Untuk menjadi kuli itu, bayar mereka. Sampai Jerman mengatakan, Indonesia itu bangsa kuli di antara bangsa-bangsa dunia.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong>Apa arti perempuan buat Anda?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Kalau saya melihat rbu saya, beliau yang membentuk saya jadi begini ini. &#8216;Jangan minta-minta. Selesaikan semua tugasmu dcngan kekuatanmu sendiri!&#8217; Luar biasa! Dalam keadaan miskin [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Begitu juga cara Anda	mengarahkan anak Anda?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Kalau untuk saya, silakan kerjakan apa yang dimaui. &#8220;Tapi, tanggungjawab pada perbuatan sendiri. Cuma itu pesan saya. Bahkan jadi bandit pun silakan. Tapi tanggungjawab atas perbuatan sendiri. Jangan nyorong pada orang lain untuk tanggungjawab. Seperti Harto nanti [tertawa]. Nggak pernah bertanggungjawab pada perbuatan sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Dari tadi, cerita soal ibu terus. Lantas, bagaimana sosok ayah di mata Anda?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Minus. Ayah saya itu Direktur Sekolah Boedi Oetomo. Saya sekolah di situ. Unluk tamat tujuh kelas, saya memerlukan sepuluh tahun. Tahu perasaan dia kan jadinya, terhadap anaknya? [tertawa]. Mengeccwakan dia lah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Karena Anda nakal?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Sampai tua saya nggak hisa main gundu [tcrtawa]. Sampai tua, nggak bisa menaikkan layang-layang. Nggak sempat main. Kerja terus. Saya menulis untuk diterbitkan. Untuk dapat uang. Habis, dari mana uang? Melihara kambing juga, nyariin makan scgala macam. Lantas dihina oleh murid-murid sekolah<br />
pemerintah. Saya pernah mengadu sama ibu saya &#8216;Bu saya dihina sama orang-orang sekolah pemerintah.&#8217; &#8216;Kenapa kau dihina? Kamu berani kerja, mereka nggak.&#8217; Ibu saya bilang. &#8216;Udah biar saja.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Ayah Anda direktur sckolah tapi masih kesulitan keuangan ya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Direktur itu gajinya 17 Guldcn setiap bulan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>HAPPY:</strong> Katanya anda sering membuat perempuan bule patah hati, benar?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Banyak [tertawa]. Biasanya mahasiswi. Setiap negara, saya punya pacar. Begitulah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Pacar yang bagaimana? Yang sehari kenal?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Iya [tertawa]. Ada yang mau ikut saya segala macam. Nyusul segala. Anak-anak Jerman itu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>HAPPY:</strong> Kenapa? Karena Anda ganteng atau pintar merayu?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Nggak tahu [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Kalau mendengar kata seks, apa yang terlintas di benak Anda?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Kalau sekarang sih, nggak ada apa-apa. Kalau dulu, kebakaran [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>HAPPY:</strong> Saya jadi tergila-gila Kartini karena Anda. Kalau Anda kenapa tergila-gila Kartini?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Kartini? Mestinya saya punya empat jilid tulisan tangan Kartini. Dibakar sama militer. Tulisan itu hasil studi lapangan. Menemui saudara-saudaranya. Malah saya punya buku keluarga, masih lulisan Jawa. Itu dibakar semuanya. Kartini, itu orang luar biasa. Mendirikan sekolah dengan tenaga sendiri. Dia satu-satunya perempuan dengan pendidikan barat, waktu itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Tapi akhirnya dia menyerah pada keadaan, kawin dengan Bupati.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Dia harus mendengarkan kemauan keluarga. Dan keluarga disuruh oleh Residen. Biasa waktu itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>HAPPY:</strong> Menurut Anda, perempuan itu yang penting cantik atau pintar?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Bagaimana dia membentuk dirinya saja. Belajar hidup.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Dalam Mereka yang Dilumpuhkan, Anda menulis perempuan Sunda harganya paling tinggi. Maksud Anda?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Itu karena perkebunan-perkebunan teh Jawa Barat banyak dikuasai Bclanda. Akhirnya anak-anaknya banyak yang jadi Indo [setengah bule].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>HAPPY:</strong> Dari semua negara yang pernah Anda kunjungi, perempuan mana yang paling cantik?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Dari Cina [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Ada apa dengan perempuan Cina? Apa karena Cina di masa muda Anda adalah Cina yang sedang membentuk jati diri nasionalismenya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Di antaranya. Dinamika dalam masyarakatnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Dalam Hoakiau di Indonesia Anda memhantah anggapan sebelumnya tentang kolonialisme mengistimewakan masyarakat etnis Cina. Sekarang, etnis Cina teristimewakan secara ekonomi tidak?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Mereka itu punya produktivitas yang lebih dari pribumi. Ini yang membuat mereka jadi bersinar. Bukan hanya Cina di sini. Cina di negerinya sendiri. Produktivitasnya lebih hebat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Pernah merasa malu jadi orang Indonesia?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Saya bangga jadi orang Indonesia. Sebab seorang diri saya menulis. Dan itu yang mendapat berkahnya bangsa. Saya nggak merasa kecil hati sebagai anak bangsa. Saya merasa berjasa. Karya sudah diterjemahkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Tapi Anda diasingkan kc Pulau Buru tanpa ada pengadilan dulu?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Bukan suatu kesalahan jadi anggota Lekra.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Kekuasaan belum berpihak pada kesejarahan yang benar, berarti bangsa ini akan tetap hegini?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Itu bagaimana yang membuatnya saja. Sejarah itu kan, pribadi-prihadi yang bikin. Terserah yang bikinnya saja. Ya kalau kekuasaan nggak memperhatikan sejarah, publik yang memperhatikan. Itu nggak bisa dilarang, hak publik. Setiap terpelajar mulailah mendokumentesikan sejarah. Supaya setiap saat punya bahan yang bisa dipakai. Tanpa dokumentasi, gerayangan saja. Dan mendokumentasi itu belum merupakan tradisi Indoncsia. Mesti dimulai.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Kenapa Anda sangat bersemangat dalam hal sejarah?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Lihat. Bangsa Indoncsia itu praktis belum memulai mcndokumentasi sesuatu. Bagaimana tahu sejarah? Wong sumbernya di situ. Mendokumentasikan berita koran, belum jadi tradisi. Saya mulai memang, tapi belum jadi tradisi. Kita nggak belajar dari Barat. Kurang belajar dari Barat. Sehingga tentang Indonesia, orang Barat yang nulis. Yang perlu itu, kebutuhan untuk jadi bangsa yang modern. Bahkan kita nggak memerlukan tradisi warisan nenek moyang scndiri. Semua menjadi beban. Lebih baik dibuang saja. saya sendiri sudah memhuang Javanisme dalem diri saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Tapi kan manusia suka romantisme masa lalu?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Itu hak seiiap orang untuk suka ini, suka itu. Tapi, perlu atau nggak. Yang kita perlukan itu yang akan datang. Dan ini perlu kesiapan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Apa hal dari Kejawaan yang anda rindukan? Wayang misalnya&gt;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Saya nggak suka wayang. Pertama, itu bukan Jawa, tapi India. Wayang sudah berhenti sejak umur 17-an, karena nggak ada. Saya pindah ke Jakarka kan nggak ada. Saya ingin mendengar gamelan. Itu ada kasetnva, tapi nggak ada vang memasangkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Kenapa gamelan?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Rindu saja. Itu sejak kecil musik saya gamelan. Gamelan itu merupakan mahkota. Saya puluhan tahun nggak dengar gamelan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Banyak vang menganggap dalam Arok Dedes, Ken Arok sebagai simholisasi karakter Soeharto. Apa yand sama dan apanya yang tidak?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Lhoo nggak tahu saya. Siapa yand bikin? Bukan saya yang membandingkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Menurut Anda, sama?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Soalnva bukan sama. Harto masih hidup, Arok sudah nggak ada [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Mungkin orang melihat kesamaannya, dalama pendkhianatannya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Soeharto orang yang nggak mau bertanggungjawab terhadap perbuatannya sendiri, sampai sekarang. Perebutaan kekuasaan saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Tidak ingin bertemu Soeharto?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Nggak mau saya. Tapi dia pernah kirim surat. Dia bilang, kesalahan itu manusiawi. Tapi kita harus punya keberanian untuk yang benar dan dibenarkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Bagaimana pandangan Anda terhadap penguasa sekarang?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Saya nggak percaya sama yang berkuasa. Nggak tahu besok atau lusa. Sampai sekarang, saya nggak percaya. Saya  menulis untuk mengagungkan kemanusiaan, musti menyingkirkan kekuasaan yang sewenang-wenangnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Pada kekuasaan seperti apa Anda akan percaya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Yang benar. Apa yang diinginkan rakyat. Persoalannya, kita ini, sesudah Soekarno, nggak punya pemimpin. Yang ada ngelantur ke mana-mana. Nggak ada pemimpin. Pemimpin, bukan pembesar. Angkatan muda yang begitu banyak berkorban, dari reformasi sampai menggulingkan Sueharto, kok nggk melahirkan pemimpin? Aneh sekali. Begitu banyak korbannya. Selaman angkatan muda nggak melahirkan pemimpin, ya begini terus. Saya pernah anjurkan supaya angkatan muda membuat Kongres Nasional Pemuda. Supaya di situ terlihat siapa nanti yang bakal jadi pemimpin.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Orde Baru juga membandun membangun gerakan pemuda dengan caranya sendiri. Kalau masih sebagai alat politis juga?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Ini dunia. Bukan sorga. Ada yang baik dan yang jelek. Berkembang bersama-sama.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Menurut Anda sejarah kepemimpinan kita berhenti sampai Soekarno?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Soekarno itu suatu contoh. Dia menguasai persoalan budaya, politik, geografi. Sekarang ini geografi nggak dapat perhatian apa-apa. Persoalannya, ini tanah air lebih banyak lautnya daripada daratnya. Itu sudah masalah. Dan kekuasaan di lauf nggak punya. Kekuasaan di darat terus. Belum pernah ada pernyataan Indonesia itu negara maritim. Belum pernah ada.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Soekarno satu-satunya pemimpin ideal di mata Anda. Tapi, karena Hoakiau di Indonesia dua memenjarakan Abda.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Oh yang memenjarakan saya itu militer. Bukan Soekarno.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Anda masih punya dendam terhadap militer?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Saya nggak suka militer Indonesia. Itu grup bersenjata menghadapi rakyat yang nggak bersenjata. Kalau ada perang internasional, lari terbirit-birit. Karena biasanya yang dilawan rakyat tanpa senjata. Tapi saya nggak punya dendam kepada siapapun. Semua saya anggap tantangan sport. Saya menjawabnya, dengan menulis. Itu yang saya bisa. Dan sekarang sudah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa karya-karya saya. Seluruh dunia, kecuali Afrika yang belum pernah diterjemahkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Mendendam kepada pembakaran dan perampasan karya Anda dulu?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Wah, saya nggak bisa memaafkan. Yang dibakar aja delapan. Belum yang hilang di penerbit-penerbit. Nggak tahu kok, sejarah saya sejarah perampasan. Nggak ngerti saya. Ini pendengaran saya juga hilang. Ini kerjaan militer juga, yang bikin saya setengah tuli. Dihajar pakai popor senapan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Anda sakit hati?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Itu semua saya sekali lagi terima sebagai tantangen sport. Rumah dirampas sejak tahun &#8216;65 sampai sckarang. Nggak ngerti saya, orang kok bisa begitu. Dan perpustakaan yang dikumpulkan puluhan tahun, dibakar begitu saja. Saya nggak ngerti orang bisa begitu. Belum naskah asli delapan yang belum sempurna, dibakar. Ini nggak bisa saya maafkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Setelah itu habis, Anda pernah berusaha menuliskannya lagi?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Nggak bisa. Mood-nya sudah lain. Nulis lagi nggak bisa. Perpustakaan dibakar. Salahnya apa? Saya mengumpulkan satu demi satu belasan tahun itu, tapi sekarang sudah ada lagi perpustokaan di lantai tiga, kalau  mau lihat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Pandangan Anda terhadap anak-anak Soekarno?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Nggak ada istimewanya. Tidak seperti bapaknya. Ke sini pun pada nggak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Anda dekat dengan Soekarno?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Kadang-kadang ngajak ketemu. Dia juga tidak kenal saya. Pernah nanya, Mas Pram Islamolog ya? [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Ada anggapan negara ini teralu besar untuk dipertahankan sebagai negara kesatuan. Menurut Anda?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Ini secara geografi, Indonesia itu memang satu. Dulu namanya Nusantara waktu Majapahit. Waktu Singasari, Dipanatara. Dipa itu benteng. Renteng antara dua benua. Nusantara, kepulauan antara dua benua.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Kalau Indonesia menjadi negara federasi?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Itu terserah kehendak publik. Cuma, kalau federal ya aturannya jadi banyak sekali. Sctiap daerah punya aturan sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Anda juga sering protes soal nama Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Persoalannya yang menamai [Indonesia] itu Inggris.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Harusnva?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Nusantara saja cukup. Atau Dipantara.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Katanva, Bumi Manusia sudah dibeli right-nya. Konon, Oliver Stone mau mengambil hak untuk filmnya. Kenapa Anda menolak?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Cuma US$60 ribu [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;">PLAYBOY. Tapi, Anda menjualnva ke seorang pengusaha Indonesia?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Itu satu setengah milyar. Dan harus tunai.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Jadi persoalannya cuma karena harga. Tapi kan magnitude-nya berbeda kalau Hollywood yang membeli?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Tcrserah pembuatnya saja. Saya nggak mencampuri itu. Haknya pembeli.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Selain Bumi Manusia, yang sudah dibeli film right-nya, apalagi?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Ini yang sedang dalam pcmbicaraan itu, Mangir. Tapi saya nggak ingat siapa orangnya. Nama-nama dan angka sulit saya ingat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Punya harapan terhadap film itu kalau,jadi nantinya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Terserah. Itu hak pcmbeli.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Kalau karya Anda difilmkan, punya keinginan untuk menontonnya dulu sebelum mcninggal?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Sulit melihat saya. Nggak lahu ini mata, kok mengganggu saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Bagaimana Anda melihat kondisi penulis sekarang?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Pengalaman hidup lain dari penulis-penulis haru ini. Jadi, rasa-rasanya ya kurang sreg gitu [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Terakhir Anda baca apa?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Wah sudah sulit saya haca. Paling koran dan kliping. Buku ya selintas saja. Matanya sudah sulit untuk melihat. Inilah anehnya jadi tua [tertawa]. Pikun. Kacamata dicari-cari tahunya dipakai.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Puisi?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Nggak pernah. Satu puisi yang pcrnah saya baca, karya Chairil. Hidup saya prosais. Walaupun dulu pernah buat dua, tiga puisi. Nggak ada kesan. Kecuali karya Chairil yang &#8220;Aku&#8221;. Pada waktu itu pendudukan Jepang yang kejam sekali. Dan Chairil menantangkan. &#8216;Saya binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang.&#8217; Itu kan menolak Jepang. Dia nggak mau jadi budaknya Jepang. Sajak itu membuat ditangkap Polisi Militer Jepang. Tapi dilepas lagi. Luar biasa itu. Menantang kekuasaan militer Jepang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Ada yang menganggap Chairil tidak bisa menulis, menurut Anda?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Dia kan terlampau muda matinya. Saya pernah ketemu sckali saja di atas keretaapi, di Karawang. Dia megangin tangan temannya. &#8216;Kau yang bertanggungjawab ya. Kau yang bcrtanggungjawab ya.&#8217; Mungkin takut dia. Karawang kan pusat Laskar Rakyat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Selain kliping, apa lagi yang biasanya Anda kerjakan di rumah ini?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Bakar sampah. Pagi biasanya setengah lima saya bangun. Masih sepi semua dan belum tentu ada kopi. Saya nempel-nempel kliping. Sudah ada delapan meter mungkin kliping. Jadi nanti kalau oranq cari apa-apa, klipingnya sudah disusun menurut abjad. Dan saya rasa nggak ada yang bikin kliping. Itu nanti siapa saja boleh kalau mau cari informasi di kliping. Tapi masalahnya geografi saja. Saban hari bertambah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Apa kenikmatan membakar sampah?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Ada kenikmatannya, aku bisa bilang: &#8216;lihat, aku bisa hancurkan kau!&#8217; [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Selain kliping dan bakar sampah, apa lagi yang Anda kerjakan?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Jalan. Mondar-mandir. Membetulkan cabang-cabang yang nggak perlu, dibabat. Saya senang di sini, nggak terganggu keributan kota. Melihat ke sana lihat rumput, lihat kolam ikan, kolam renang. Nggak ada keinginan apa-apa lagi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Siapa yang mengajak Anda pindah ke sini?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Ada orang dekat menawarkan tanah. Saya mau karena jauh dari Jakarta. Nggak kuat saya di Jakarta. Di sini sejuk. Anginnya sehat. Jakarta itu air tanahnya sudah campur tai semua. ltu masalah pokok. Belum macetnya. Belum kejahatannya. Sepanjang jalan kejahatan melulu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Kenapa tidak kembali ke Blora?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Nggak. Kalau pulang kc Blora, ingat kesedihan waktu kecil. Jam setengah lima sudah harus belanja ke pasar. Pulang terus sekolah. Pulang sekolah, cari kayu bakar. Ngurus kambing, ngurus adik-adik. Apalagi waktu orangtua meninggal semua. Semua jatuh ke tangan saya, sebagai anak pertama. Nyekolahkan, kasih makan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Masih ingat tulisan pertama Anda?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Kan sudah dibakari militer. Ada waktu di SD saya nulis naskah. Saya kirim ke penerbit Kediri, Tan Kun Shui. Ditolak [tertawa]. Ceritanya macem-macem. Nggak bisa mengingat lagi. Ya itu pembakaran tahun &#8216;65. Kehilangan banyak naskah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Tidak pernah mcncoba rokok selain Djarum?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Nggak. Kebiasaan saja. Ini Djarum asbaknya. Pernah coba rokok putih. Nggak cocok.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Sewaktu di Pulau Buru kan tidak selalu bisa beli rokok?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Menanam sendiri tembakaunya. Kerasnya persetan. Dan kulitnya, kalau nggak ada kertas, Injil segala dipakai [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Di Pulau Buru, tahanan hanya boleh membaca buku agama. Bagaimana rasanya membaca buku tentang hal yang tidak Anda percaya?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Ya makin tidak percaya [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Hasil membaca buku tentang Hindu dan Budha melahirkan Arok Dedes. Kenapa tidak ada buku hasil refleksi Anda tentang hubungan Islam dan Kristen?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Waktu itu belum jadi persoalan. Belum ada Kristen-Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Selama di Pulau Buru, tidak pernah memikirkan kebutuhan biologis?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Nggak berbuat apa-apa. Diterima saja semuanya sebagaimana adanya. Semua kan dicurahkan pada tulisan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PLAYBOY:</strong> Apa yang paling tidak bisa Anda lupakan dari Pulau Buru?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PRAM:</strong> Banyak. Antaranya saya menemukan mangga di pinggir kali. Lantas, saya kembangbiakkan. Jadi banyak. Nanti kalau ke Buru, ada pohon mangga, ingat saya [tertawa]. Tadinya nggak ada di pedalaman. Saya melihara ayam delapan. Telornya itu untuk beli rokok, beli kertas, beli karbon di pelabuhan. Karena saya kan di pedalaman. Dan saya senang sekali, sekarang Pulau Buru jadi gudang beras Maluku. Pekerjaan kami itu. Jalanan kami bikin sepanjang 175 km. Belum sawahnya. Belum irigasinya. Belum ladangnya. Kalau sore itu udaranya dihiasi pelangi. Kalau hujan, air dengan keras turun ke bawah. Ikan melawan arus air hujan. Tinggal tangkap saja. Berkarung-karung itu [tertawa].</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: PLAYBOY, Edisi I, April 2006</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/10/04/playb0y-interview-pramoedya-ananta-toer.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/10/04/playb0y-interview-pramoedya-ananta-toer.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/10/04/playb0y-interview-pramoedya-ananta-toer.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandung</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/09/15/bandung.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/09/15/bandung.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Sep 2006 02:58:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2006/09/15/bandung.htm</guid>
		<description><![CDATA[Tak sampai lima kilometer ke tenggara, melalui lapangan terbang Andir, Jalan Raya Pos sampai ke Bandung, di sebuah dataran tinggi bekas kawah purba. Ketinggian rata-rata 700 meter di atas permukaan laut. Kota Bandung sendiri semasa kolonial dimashurkan sebagai Parijs van Java, juga pusat kemiliteran sejak awal abad 20. Semasa Orde Baru memang bukan lagi pusat kemiliteran karena seluruh daratan Indonesia telah diduduki oleh militer. Tentu saja bukan militer Kompeni, bukan militer Hindia Belanda, tetapi militer Orde Baru. Bandung, ibukota Priangan, semasa era kemerdekaan nasional juga mashur di dunia, sebagai ibukota Asia-Afrika, karena di sinilah untuk pertama kali diselenggarakan Konferensi Asia-Afrika, 1955.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Batavia'>Batavia</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Depok'>Depok</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/1156335.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-340" title="1156335" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/1156335-225x300.jpg" alt="1156335" width="225" height="300" /></a>Tak sampai lima kilometer ke tenggara, melalui lapangan terbang Andir, Jalan Raya Pos sampai ke Bandung, di sebuah dataran tinggi bekas kawah purba. Ketinggian rata-rata 700 meter di atas permukaan laut. Kota Bandung sendiri semasa kolonial dimashurkan sebagai Parijs van Java, juga pusat kemiliteran sejak awal abad 20. Semasa Orde Baru memang bukan lagi pusat kemiliteran karena seluruh daratan Indonesia telah diduduki oleh militer. Tentu saja bukan militer Kompeni, bukan militer Hindia Belanda, tetapi militer Orde Baru. Bandung, ibukota Priangan, semasa era kemerdekaan nasional juga mashur di dunia, sebagai ibukota Asia-Afrika, karena di sinilah untuk pertama kali diselenggarakan Konferensi Asia-Afrika, 1955.<span id="more-74"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Di sebelah utara dan sebelah selatan dataran tinggi berjajar gunung-gunung api yang telah lama mati. Tetapi di dalam kota Bandung sendiri berjajar bangunan-bangunan peninggalan kolonial dan bangunan baru semasa kemerdekaan. Di antara gedung-gedung terdapat sebuah yang diarsiteki Bung Karno sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Bandung juga dikenal sebagai kota &#8220;Lautan Api&#8221; karena semasa Revolusi kota ini menjadi &#8220;Lautan Api&#8221; dalam mempertahankan kemerdekaan nasional. Priangan Si Jelita yang ribuan tahun hidup dalam kedamaian nyatanya tak segan berlumuran dan terbakar demi kemerdekaan nasional. Setiap orang Indonesia kenal lagu revolusi Halo-halo Bandung itu. Sekali-sekali juga diperdengarkan di forum-forum internasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahwa Bandung terkenal juga sebagai ibukota Asia-Afrika memang bukan suatu kebetulan. Setelah usai Perang Dunia II, Vietnam dan Indonesia tampil sebagai pelopor Asia Afrika yang membebaskan diri dari kolonialisme. Vietnam pada 15 Agustus r94S dan Indonesia dua hari setelah itu, 17 Agustus 1945. Vietnam dan Indonesia telah membuktikan, bangsa jajahan bisa memerdekakan diri dari kekuasaan kolonial Dunia Utara. Maka sejak itu Asia-Afrika bergolak untuk juga memerdekakan dirinya. Tanpa keberhasilan dua negara pelopor ini sulit dibayangkan gerakan-gerakan kemerdekaan di Dunia Selatan bisa sukses. Sayang perjuangan mereka tidak semua segera berhasil. Perang Dunia II segera disusul oleh Perang Dingin Timur-Barat, Komunisme versus Kapitalisme, perang memperebutkan keunggulan sistim politik dan ideologi dan tata dunia. Dan bila telah menyangkut ideologi maka lenyaplah batas-batas ketatanegaraan, regional, internasional maupun nasional, karena dia hidup dalam benak pribadi perorangan. Dalam Perang Dingin antara Timur dan Barat, Dunia Kedua dan Dunia pertama, Soekarnolah yang menemukan Dunia Ketiga, Dunia Harapan yang terbebas dari konflik Timur-Barat, Komunisme-Kapitalisme. Konsekuensi dari penemuan Dunia Ketiga adalah mengkonsolidasi semua gerakan kemerdekaan di Asia-Afrika dan mengabarkan dampak Perang Dingin yang menjalari seluruh dunia, manusia penjajah dan manusia jajahan sekaligus. Pandangan jauh Soekarno yang membuat Indonesia menjadi mercusuar Asia-Afrika. Dan ini bukan penampilan Soekarno yang pertama dalam sejarah ummat manusia. Penampilannya yang pertama adalah semasa muda ia merintis dan berhasil dengan gemilang melahirkan nasion Indonesia, dan bukan tanpa hambatan dan hadangan, namun tanpa mengucurkan setetes darah pun seperti terjadi pada bentukan nasion-nasion lain di luar Indonesia. Dakwaan Sekutu, pemenang Perang Dunia II, bahwa Soekarno adalah &#8220;war criminal&#8221; di samping Hatta yang &#8220;collaborator&#8221; Jepang, buyar tanpa bekas. Dalam masa pendudukan militeris Jepang, bukan tanpa mempertaruhkan jiwanya, ia pergunakan kelemahan Jepang yang membutuhkan bantuan kaum nasionalis, untuk melakukan pendidikan politik secara massal, yang tak pernah bisa terjadi semasa kolonial Hindia Belanda, dan secara psikologis menaikkan harga diri manusia Indonesia di hadapan hegemoni kekuasaan-kekuasaan penjajah Barat. Semua yang diupayakan, barang tentu dengan sejumlah kelemahan dan kesalahan, menemukan muaranya pada kemerdekaan nasional pada 17 Agustus 1945, dan tanpa mengucurkan darah setetes pun. Suatu unikum dalam sejarah ummat manusia. Bukan kebetulan bila negara-negara penjajah atau bekas penjajah di Dunia Utara tidak menyukai Soekarno, apalagi antek-anteknya di dalam negeri Indonesias endiri, yang hidup dari kesetiaannya pada bekas majikan. Itu sebabnya sampai sekarang pun semua anti-Soekarno digabung jadi satu ikatan masih tetap tanpa arti di hadapan Soekarno, sekali pun berhasil dibikin almarhum sebagai tahanan Orde Baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Gelar Bandung sebagai Parijs van Java jelas menerangkan, bahwa sudah sejak semula tempat ini jadi tujuan wisata. Maka wajar-wajar saja bila lahir lagu puji-pujian yang dipersembahkan pada &#8220;mojang Priangan&#8221; pada umumnya dan gadis Bandungpada khususnya, sebagaimana dituangkan dalam lagu melankolis &#8220;Panon Hideung&#8221; alias &#8220;Mata Hitam&#8221;. Berpuluh tahun lagu ini berkumandang di darat, laut, dan udara. Dalam tahanan di penjara Bukitduri, waktu aku belajar lagu-lagu Eropa dan Amerika dari seorang perwira TNI, juga tahanan, untuk pertama kali kudengar dari mulutnya, bahwa &#8220;Panon Hideung&#8221; bukan lagu asli Sunda; itu nyanyian orang-orang Rusia Putih emigran setelah terlanda Revolusi Bolshewik. Kemudian ia menyanyikan dalam terjemahan Inggris berjudul &#8220;Far over the Sea&#8221;. Dalam pembuangan di pulau Buru, 1972, seorang organisator buruh sekaligus peserta pendiri Pertamina, R.P.R. Situmeang, dengan alasan apa aku tak pernah tanyakan, memberikan sanggahan: Yang benar bisa sebaliknya, &#8220;Far over the Sea&#8221; boleh jadi mengambil dari &#8220;Panon Hideung, melodinya&#8221;. Sebenarnya tidak sulit untuk melacak mana yang lebih tua. Tetapi niasa penahanan dan pembuangan tak memberi kesempatan. Masa bebas pun ternyata juga tidak, karena disibuki hal-hal lain. Yang jelas pada tahun belasan abad ini memang ada beberapa orang Rusia Putih yang bergerak di bidang panggung Indonesia secara profesional. Tanpa penyelidikan sejarah, authentisitas dan antisitasnya, sulit menunjuk orang Rusia tersebut sebagai matarantai penghubung.</p>
<p style="text-align: justify;">Bandung juga terkenal dengan julukan Bumi Sangkuriang. Sangkuriang adalah tokoh pria yang mencintai wanita yang kemudian ternyata ibunya sendiri. Oedipus Rex gaya Sunda. Walau tidak banyak memang ada legenda-legenda dunia yang menyusup jadi legenda setempat di Indonesia. Bagaimana Oedipus Rex sampai ke Priangan dan melalui jalan apa dan seberapa lama dalam perjalanan, juga belum terselidiki sampai tuntas. Setidak-tidaknya Oedipus Rex juga menyusup ke sebelah timur Priangan, di Jawa Tengah dengan nama lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagiku sendiri, Bandung memang tempat yang tak dapat dilupakan baik dalam hubungan dengan segala sesuatu dengan Konferensi A-A maupun pertemuan-pertemuan pribadi. Tetapi yang paling mengesankan adalah kejadian 4 tahun setelah konferensi tersebut, 1959. Waktu itu diadakan Konferensi Nasional Komite Perdamaian Indonesia. Pembicara utama tentu saja Bung Karno, Presiden Republik Indonesia. Kemudian juga Ruslan Abdulgani, yang semasa rezim Soekarno mendapat julukan jubir Usman, yang artinya kurang lebih jurubicara tentang ideologi negara. Aku mendapat giliran menyampaikan pikiranku khusus mengenai aspek budaya. Aku yakin pidatoku tidak punya sangkutpaut dengan kejahatan atau semacamnya, politis, atau pun sosial. Apa yang terjadi? Begitu turun dari mimbar tiga orang tentara telah menyambut untuk menyampaikan perintah: menghadap ke Kodam Bandung. Kusanggupi akan datang dan mereka pergi. Langsung kutarik isteriku dari barisan kursi hadirin dan kubawa pulang ke Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata tidak berhenti sampai di situ. Di Jakarta surat panggilan Kodam Bandung dimutasikan pada Kodam Jakarta. Berkali-kali panggilan datang, dan aku tak pernah berniat akan datang. Beberapa minggu setelah konferensi tersebut kuterima surat lain, dari Komite Perdamaian Indonesia: menurut keputusan konferensi aku diangkat jadi anggota dewan ketua komite&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber:<br />
Jalan Raya Pos, Jalan Daendels<br />
Pramoedya Ananta Toer<br />
Lentera Dipantara</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/15/bandung.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/15/bandung.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Batavia'>Batavia</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Depok'>Depok</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/09/15/bandung.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batavia</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Sep 2006 02:33:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm</guid>
		<description><![CDATA[Peta_JakartaDuapuluh lima kilometer ke timur Jalan Raya Pos sampai ke Batavia, kota yang dibangun Jan Pietersz Coen. Pada mulanya Batavia adalah benteng yang dibangunnya dan diresmikan pada 30 Maret 1619 untuk kemudian menghapus lagi nama tersebut. Tidak lebih dari 2 bulan kemudian, pada 30 Mei 1619 Kompeni Belanda di bawah Coen menyerbu istana Adipati Jayakarta dan diberitakan dengan kerugian hanya seorang serdadu tewas. Dengan demikian, berdasarkan hukum perang, Jayakarta menjadi milik Kompeni Belanda. Dalam perkembangannya kemudian Batavia menjadi ibukota kerajaan dunia Belanda di Asia dan Afrika, mengakhiri pelayaran liar (wilde vaart) Kompeni, karena sekarang telah ada tujuan yang pasti. Yang dinamai Batavia semasa Coen adalah Jakarta Kota dewasa ini, yakni Kodya Jakarta Utara tanpa Kepulauan Seribu.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/14/tangerang.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tangerang'>Tangerang</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/08/jalan-raya-pos-jalan-daendels-i.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jalan Raya Pos, Jalan Daendels'>Jalan Raya Pos, Jalan Daendels</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Depok'>Depok</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/Peta_Jakarta.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-338" title="Peta_Jakarta" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/Peta_Jakarta-248x300.gif" alt="Peta_Jakarta" width="248" height="300" /></a>Duapuluh lima kilometer ke timur Jalan Raya Pos sampai ke Batavia, kota yang dibangun Jan Pietersz Coen. Pada mulanya Batavia adalah benteng yang dibangunnya dan diresmikan pada 30 Maret 1619 untuk kemudian menghapus lagi nama tersebut. Tidak lebih dari 2 bulan kemudian, pada 30 Mei 1619 Kompeni Belanda di bawah Coen menyerbu istana Adipati Jayakarta dan diberitakan dengan kerugian hanya seorang serdadu tewas. Dengan demikian, berdasarkan hukum perang, Jayakarta menjadi milik Kompeni Belanda. Dalam perkembangannya kemudian Batavia menjadi ibukota kerajaan dunia Belanda di Asia dan Afrika, mengakhiri pelayaran liar (wilde vaart) Kompeni, karena sekarang telah ada tujuan yang pasti. Yang dinamai Batavia semasa Coen adalah Jakarta Kota dewasa ini, yakni Kodya Jakarta Utara tanpa Kepulauan Seribu.<span id="more-73"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kota Batavia dibangun menurut pola kota Belanda dengan sejumlah kanal, jalan raya, dan gedung. Tenaga kerja diambil dari tawanan perang dan budak belian, dan orangorang Tionghoa yang diculiki dari pantai selatan Tiongkok. Orang-orang Tionghoa inilah yang kemudian dengan jiwanya yang lebih mandiri dan merdeka serta kerajinannya yang luarbiasa berhasil meninggalkan statusnya sebagai pekerjapaksa menjadi pengusaha dan pedagang, menguasai sektor ekonomi masyarakat Batavia. Kompeni Belanda sendiri merasa iri dan jengkel terhadap keberhasilan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejumlah bangunan megah Kompeni Belanda masih tersisa sampai sekarang. Dalam satu tahun setelah menguasai Javakarta, Coen telah mendatangkan 800 orang Tionghoa untuk usaha pembangunannya. Dengan berhasilnya Belanda menguasai pelabuhan Sunda Kelapa, yang berarti juga berhasil membuatnya jadi bandar internasional dan bandar pengumpul komoditi, pada perpindahan pedagang-pedagang dari pelabuhan-pelabuhan kecil ke sini, terutama para pedagang pengumpul Tionghoa.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk keamanan Batavia, Coen membangun 4 benteng, masing-masing dinamai dengan nama-nama batu mulia. Maka penduduk menamai empat serangkai benteng kota tersebut: Kota Intan. Di selatannya, Coen membangun daerah pemukiman. Ia bercita-cita membangun koloni Belanda dan hendak mendatangkan wanita-wanita Belanda untuk jadi isteri para serdadu dan pejabat Kompeni. Pihak Kompeni Belanda di Belanda menolak gagasan ini. Maka kota yang dibangunnya diisinya dengan imigran sukarela, terutama orang Tionghoa.</p>
<p style="text-align: justify;">Kompeni Belanda sudah sejak lahirnya adalah sebuah usaha dagang. Langkah Coen menguasai Jakarta membuat Kompeni Belanda terlibat dalam usaha menguasai wilayah secara permanen. Dari sini muncul polemik sepanjang sejarah Kompeni Belanda atau VOC: apa yang penting untuk Kompeni? Berdagang atau berkuasa? Memang VOC lebih mudah mendapatkan keuntungan melalui perdagangan. Tapi berdagang saja tidak mungkin. Pertama karena raja-raja Pribumi, yang tak pernah melihat berkembangnya golongan menengah, belum mengerti makna perjanjian dagang. Mereka mendasarkan segalanya pada kekuasaan pribadi sebagai raja semata. Berdasarkan konsep kekuasaan, seseorang bisa menjadi raja karena memang dikodratkan menjadi raja timbullah anggapan, kekuasaan berasal juga dari kodratullah; jadi bebas dari tindak salah atau berdosa. Dalam persaingan internasional untuk mendapatkan komoditi antara Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis, yang berkembang jadi perebutan kekuasaan atas jalan pelayaran internasional, mudah dimengerti bila para raja Pribumi yang tidak mengenal aturan-aturan perdagangan mudah terbujuk untuk mengingkari perjanjian dan berupaya mendapatkan keuntungan sebesar mungkin dari persaingan di antara empat bangsa Eropa tersebut. Untuk menyelamatkan kepentingan dagangnya, semua Kompeni asing tersebut memerlukan kekuatan militer dengan benteng-benteng setempat. Akibat kelanjutannya adalah penguasaan wilayah dan: penjajahan atas bangsa-bangsa produsen komoditi. Dengan kekuatan militer yang nisbiah sangat kecil, bangsa-bangsa Eropa dapat mengalahkan tentara kerajaan-kerajaan Pribumi yang tidak profesional. Dalam abad-abad selanjutnya dunia non-Eropa praktis telah terjajah oleh bangsa-bangsa Eropa. Dana dan daya dunia non-Eropa tersedot tanpa henti untuk kekayaan, kemakmuran, kekuatan, dan kemajuan Eropa.</p>
<p style="text-align: justify;">Perang Dunia II mengakhiri perebutan jajahan atas bangsa-bangsa non-Eropa. Dan dengan usainya Perang Dingin yang memperebutkan keunggulan sistim politik dan ideologi, pada menjelang akhir abad 20, Eropa-kemudian meluas menjadi Barat-melakukan penjajahan baru atas bangsabangsa non-Eropa, non-Barat, melalui neo-kolonialisme: negara-negara non-Barat tetap diperlakukan sebagai perdagangannva, dan kekuasaan setempat diperlakukan sebagai satpam semata untuk menjaga kepentingan pasar mereka. Dan penduduk yang kini juga dinamai Dunia Selatan atau Dunia Ketiga, diperlakukan sebagai konsumen semata. Dunia</p>
<p style="text-align: justify;">Barat yang telah dibikin kaya, kuat, dan maju oleh Dunia Selatan tetap memegang kendali dunia. Dan dengan kekayaan, kekuatan, dan kemajuannya, mereka menjerat kurbannya dengan hutang luar negeri dan diharapkan sampai dunia kiamat, mungkin juga sampai setelah itu, di akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Penguasaan Coen atas Jayakarta, pendirian Batavia sampai dengan pembangunan Jalan Raya Pos, tak lain dari sarana babak sejarah ummat manusia Dunia Selatan sekarang untuk menjadi ladang dan tambang kemakmuran Dunia Utara. Nampaknya pembangunan Batavia yang menggunakan tenaga kerjapaksa multi-rasial tawanan perang bangsa-bangsa Asia dan multi-etnis tawanan perang dari Nusantara sendiri, merupakan prototip dari apa yang bakal terjadi selanjutnya dalam abad-abad kemudian. Dalam abad 18 Batavia sudah mendapat julukan &#8220;Ratu Timur&#8221; karena kemegahan gedung-gedungnya, kemakmuran penduduknya termasuk para budak-beliannya, dan jaringan perdagangan internasionalnya yang maha luas, dengan dukungan keperkasaannya di lautan. Tetapi dekat sebelum Daendels merombak tata-kekuasaan dan sub-sub sektornya, di Jawa terutama, korupsi yang terjadi dari persekongkolan antara pejabat Eropa dan kaum feodal Pribumi telah membuat keropos kejayaan kolonial. Korupsi memang tindak kejahatan menurut hukum pidana Eropa. Celakanya tidak demikian bagi para penguasa Pribumi. Setiap orang dalam tata-susun feodal Pribumi yang vertikal itu merasa berhak mendapatkan upeti dari bawahannya, jadi bukan suatu kejahatan. Celakanya ada dari kalangan rakyat jelata yang merasa bersyukur bila dapat mempersembahkan upeti sampai di luar kemampuannya kepada para pembesarnya sendiri. Abdullah bin Muhammad A1-Missri, pengarang dalam bahasa Melayu, menulis memoar tentang semasa Daendels pada kurang lebih 1815, bahwa semua kekayaan dari bumi Jawa: &#8220;Harus sampai ke negeri Belanda, karena memang begitu, si opas menipu pegawai pelabuhan, yang menipu jurutulis kantor, yang menipu petor, dan petor menipu anggota Dewan Hindia, yang menipu Gubernur Jenderal, Gubernur Jenderal menipu majikannya Raja Belanda.&#8221; Pengarang berbahasa Melayu tulisan Arab tersebut memang cuma meledek korupsi yang terjadi sejak opas kantor sampai pada Gubernur Jenderal, korps pejabat Pribumi dan Eropa bersama-sama. Semua yang dikorup tak lain daripada dana dan daya rakyat kecil, petani. Dan betapa terkejutnya Inggris waktu mendarat di Jawa setelah kepergian Daendels pada 1809, bahwa petani Jawa hanya dapat menikmati seperempatbelas dari hasil panennya. Tiga belas perempatbelas adalah untuk membiayai tata-susun feodal Pribumi sendiri, kekuasaan kolonial, dan kemakmuran serta kesejahteraan Belanda, Eropa. Dari sisa yang seperempatbelas itu untuk kepentingan pribadi dan keluarganya masih harus membayar mahal pada para pemegang pah (pacht, pemborong-monopol) pasar, pejagalan, madat-bila si petani penghisap madat-dan sejumlah pah lain, termasuk jembatan-jembatan tertentu. Biasanya pemegang pah adalah orang Tionghoa, yang memperolehnya dari Kompeni melalui lelang. Dari Raja Belanda sampai Dewan Hindia dan Gubernur Jenderal, Residen dan birokrasinya, upati sampai pamong desa terendah, semua hidup dari penghasilan petani. Jadi, bagaimana petani Jawa bisa hidup? Orang Inggris menjawab sendiri: karena kesuburan tanahnya. Justru karena itu petani sebagai lapisan terbawah masyarakat tidak boleh menjadi bebas. Lebih buruk lagi setiap saat mereka terbuka terhadap pembunuhan. Dalam sastra babad Pribumi pembunuhan yang terjadi atas klas feodal besar kesempatan tercatat di dalamnya. Tetapi pembunuhan terhadap lapisan bawah masyarakat tidak pernah tercatat nama mereka. Penindasan struktural atas masyarakat rendahan ini membikin para petani Jawa pasrah, apatis, tanpa pelindung. Bahkan untuk keselamatan mereka sendiri mereka harus membentuk sistim kepolisannya sendiri, yang dibiayai dan dilaksanakan oleh mereka sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan suatu kebetulan bila dalam salah satu pidatonya Bung Karno pernah menyatakan bahwa (kurang-lebih): petani kita belum pernah merdeka. Sayang tak kuingat lagi kapan dan di mana kata-kata tersebut diucapkan atau dituliskan. Pengamat Barat malah tak segan-segan menilai petani Jawa sebagai indolen.</p>
<p style="text-align: justify;">Batavia berpenduduk multi-rasial dan multi-etnis sejak didirikan oleh Coen. Para tawanan perang tinggal di kamp-kamp tawanan yang terbagi menurut ras atau etniknya seperti: Kampung Bali, Kampung Jawa, Kampung Ambon, Kampung Bandan (mestinya: Banda), Kampung Arab, Kampung Koja, Kampung Melayu, Kampung Bugis. Sebagian budak-budak India yang dibebaskan Kompeni dinamai Mardijkers, sedang orang-orang Tionghoa ada yang berhasil menebus kebebasannya dan membangun Kampung Cina sendiri yang lebih terkenal dengan nama Pecinan. Kata kamp ini kemudian diserap dalam bahasa Melayu/Indonesia menjadi kampung.</p>
<p style="text-align: justify;">Pergaulan antar-ras dan antar-etnik melahirkan lingua franca Melayu-Betawi, juga apa yang kelak dinamai seni dan budaya Betawi yang mempunyai kecenderungan Tionghoa, terutama di bidang musik dan tari.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu Batavia diserang oleh tentara Mataram pada 1628 dan 1629, budak-budak dan tawanan perang yang ikut membela Belanda mendapatkan pembebasan karena kesetiaannya. Walaupun dalam tentara Kompeni Belanda terdapat tak kurang-kurangnya serdadu Jepang bayaran, yang terkenal ganas dengan pedang samurainya tak pernah jelas apakah mereka kemudian jadi penetap di Batavia.</p>
<p style="text-align: justify;">Baik, kita tinggalkan dulu Batavia dan kembali pada Daendels, yang diagungkan sebagai pembangun Jalan Raya Pos alias Jalan Daendels. Dialah yang memperluas Batavia lebih ke pedalaman. Waktu itu Batavia, yang terkepung oleh rawa-rawa pantai sangat tidak sehat. Dalam pembangunan tahap pertama semasa Coen tidak kurang dari sepertiga pekerja dari berbagai bangsa dan etnis tewas tersapu malaria. Untuk membuat Batavia menjadi sehat Daendels memerintahkan menghancurkan benteng-benteng Kota Intan agar kota mendapatkan hawa lebih segar. Perluasan ke selatan menggunakan wilayah Gambir, yang oleh Belanda dinamai Weltevreden. Ia membangun istana baru di seberang timur lapangan Banteng (terjemahan dari nama Belanda: Buffelveld) dengan kandang-kandang untuk kereta dan kudanya. Kandang ini sejak dasawarsa pertama abad 20 dipergunakan untuk tempat pencetakan dan penerbitan Volkslectuur, yang lebih terkenal kemudian dengan nama Balai Pustaka.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menangkal serbuan Inggris tanpa benteng kota, ia pusatkan pertahanannya lebih ke selatan Weltevreden, ke Meester Cornelis, yang untuk waktu lama oleh penduduk Batavia disebut Mester, kemudian dinamaiJatinegara. Artinya bahwa jalan-jalan di Batavia semasa Daendels telah memenuhi syarat untuk pengangkutan militer dari Meester Cornelis sampai ke pelabuhan Sunda Kelapa. Dengan terpusatnya militer di selatan Weltevreden, pembangunan besar-besaran pun mengikuti.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang Napoleon Kecil barang tentu ia juga membawa mutiara Revolusi Prancis Liberte, Egalite, Fraternite (Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan). Nyatanya tidak demikian. Tak ada kebebasan, persamaan, dan persaudaraan disebarkannya di Jawa. Kalau ada sepercik kebebasan yang diberikan, hal itu hanya sebatas kebebasan beragarna. Dan itu pun hanya mengenai agama orang Eropa, dan di sini berarti Katholik. Sebelum Daendels, ummat Katholik memang menghadapi banyak kesulitan dari pihak Kompeni Belanda. Soalnya Belanda yang Protestan pernah melancarkan perang 80 tahun untuk membebaskan diri dari penjajahan Spanyol yang Katholik. Perang laut antara Belanda dan Spanyol dan Portugis adalah buntut perang 80 tahun. Mudah untuk mengerti, mengapa Coen menindas ummat Katholik di Maluku, dan hanya memberikan beras kepada ummat Katholik yang taubat pada Protestan. Jadi kebebasan beragama yang diberikan Daendels di Jawa tak lebih artinya daripada pengakuan pada kehadiran Katholik. Bagaimana pun terbatasnya pekerjaan reform di bidang keagamaan ini bukan tidak penting.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam masa pemerintahannya, Weltevreden ia sulap menjadi pemukiman, perkantoran sipil, maupun militer yang mempesonakan. Dan waktu ia meninggalkan Jawa, istana yang dibangunnya belum sepenuhnya selesai pemasangan atapnya. Sebagai bukti bahwa ia telah menularkan mutiara Revolusi Prancis, ia bangun gedung gereja Katholik yang besar, megah, menjulang tinggi, menurut tradisi Katholik Eropa.</p>
<p style="text-align: justify;">Nama Batavia hapus dari peta sejarah pada bulan-bulan pertama pendaratan balatentara Jepang. Melalui keputusan pemerintah pendudukan Jepang, nama itu diubah menjadi Jakarta sesuai dengan keinginan kaum nasionalis. Semasa dasawarsa terakhir pemerintah kolonial, nama itu pun sudah dipergunakan secara sporadis oleh kaum nasionalis, tetapi yang paling gigih dan paling lama menggunakannya adalah lembaga pendidikan nasional Taman Siswa dan para lulusannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam bulan Juni atau Juli 1942 setelah diperintahkan meninggalkan rumah keluarga, aku mulai tinggal di Jakarta. Sebagian besar hidupku pun kulewatkan di sini. Waktu datang untuk pertama kali aku terkesan pada keanggunan, kebersihan, dan keteraturan sisa-sisa kehidupan kolonial ibukota Negara Hindia ini. Rasanya jauh lebih beradab dari Surabaya. Tiga setengah tahun masa pendudukan militeris Jepang, Jakarta tak terurus lagi kebersihannya. Aspal jalanannya pada terkelupas. Tak jarang bagian-bagian yang hancur karena sudah tak mampu lagi menanggung beban truk, tank, dan panser Jepang membuat susunan batunya porak-poranda. Jalur kiri-kanan badan jalan ditumbuhi ilalang berdebu yang cukup rapat dan tinggi. Dan pada bnlan-bulan terakhir pendudukannya, tidak jarang pejalan kaki terhadang oleh mayat orang kelaparan, tanpa ada pertolongan oleh siapa pun dan dengan apa pun. Setiap orang terancam oleh nasib yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta sebagai kota Proklamasi mengalami kebangkitan dari kelesuan pendudukan Jepang pada Agustus 1945. Di luar dugaan penduduk yang kelaparan dan hanya memiliki sisa terakhir kekuatannya bersorak menyambut kemerdekaan nasionalnya sendiri. Sejak itu Indonesia milik nasion Indonesia. Namun jakarta juga kota pertama-tama yang menanggung akibat Proklamasinya. Sekutu, di sini Inggris, pemenang Perang Dunia II, kemudian juga bersama Belanda, tidak bisa melihat bangsa yang ratusan tahun jadi sumber penghisapannya bangkit merdeka jadi dirinya sendiri. Juga sisa-sisa balatentara Jepang, yang tak bisa melihat bangsa yang begitu dalam dihinakannya, bangkit merdeka, keluar dari tangsitangsinya secara liar dan menyebabkan teror. Orang-orang Indonesia yang kelaparan dan setengah kelaparan, tanpa senjata perang, melawan dan dengan demikian revolusi fisik pecah, bangsa jajahan melawan para bekas majikannya. Dua tahun revolusi berkecamuk, dan aku sendiri kemudian mendarat di penjara Bukitduri sebagai tahanan Belanda. 1947! Sebagian kerjapaksa yang ditimpakan pada kami adalah menyingkirkan kotoran peninggalan Jepang, membabati ilalang pinggir jalan, lapangan Gambir, tangsi-tangsi militer, tempat penimbunan rongsokan alat perang, dari Jatinegara sampai Tanjung Priok.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber:<br />
Jalan Raya Pos, Jalan Daendels<br />
Pramoedya Ananta Toer<br />
Lentera Dipantara</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/14/tangerang.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tangerang'>Tangerang</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/08/jalan-raya-pos-jalan-daendels-i.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jalan Raya Pos, Jalan Daendels'>Jalan Raya Pos, Jalan Daendels</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Depok'>Depok</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Depok</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Sep 2006 03:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2006/09/14/depok.htm</guid>
		<description><![CDATA[Jalan Raya Pos membentang ke selatan sepanjang 22 kilometer melalui Pasarminggu, Lenteng Agung, dan Pondok Cina sampai Depok. Dari namanya, Lenteng Agung dan Pondok Cina, dengan mudah orang dapat membayangkan, dulu di dua tempat tersebut pernah berdiri sebuah kelenteng besar dan pemukiman penduduk Tionghoa. Wilayah kiri-kanan jalan sampai Depok pun dahulu merupakan tanah swasta milik orang Eropa atau Tionghoa.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/08/jalan-raya-pos-jalan-daendels-i.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jalan Raya Pos, Jalan Daendels'>Jalan Raya Pos, Jalan Daendels</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Batavia'>Batavia</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/14/tangerang.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tangerang'>Tangerang</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/logo-depok-color.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-332" title="logo-depok-color" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/logo-depok-color-230x300.jpg" alt="logo-depok-color" width="230" height="300" /></a>Jalan Raya Pos membentang ke selatan sepanjang 22 kilometer melalui Pasarminggu, Lenteng Agung, dan Pondok Cina sampai Depok. Dari namanya, Lenteng Agung dan Pondok Cina, dengan mudah orang dapat membayangkan, dulu di dua tempat tersebut pernah berdiri sebuah kelenteng besar dan pemukiman penduduk Tionghoa. Wilayah kiri-kanan jalan sampai Depok pun dahulu merupakan tanah swasta milik orang Eropa atau Tionghoa. <span id="more-71"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Depok sendiri semasa kompeni Belanda alias VOC milik C. Chastelein, anggota Dewan Hindia alias Pemerintahan Agung Hindia, yang dibelinya seharga 700 ringgit. Dengan surat wasiat tertanggal 13 Maret 1714 tanah swastanya ia serahkan pada budak-beliannya yang beragama Kristen dan keturunannya, dengan syarat bahwa untuk selama-lamanya tanah tersebut menjadi milik dan garapan bersama, tanpa boleh dijual, disewakan, atau digadaikan. Syarat lain yang disebutkan adalah tak bolehnya orang Tionghoa tinggal di situ, tak boleh terjadi jual beli candu dan berjudi. Para budak yang dibebaskannya berasal dari Bali, Sulawesi, Timor, dan lain-lain, sejumlah kira-kira 200 orang. Mereka juga diperlengkapi dengan sekitar 300 sapi, dua perangkat gamelan, serta 50 tombak berhiaskan perak, dan beberapa barang lain. Duaratus tahun kemudian, pada 1915 jumlah masyarakat bekas budak di Depok telah berjumlah 748 penduduk yang mempunyai hak atas tanah tersebut. Mereka menjadi masyarakat tersendiri di tengahtengah masyarakat besar yang beragama Islam. Dari masyarakat di luarnya mereka menuntut dipanggil &#8220;tuan&#8221;, seperti terhadap orang-orang Eropa. Untuk meningkatkan kekristenannya, pada Januari r879 dibuka sebuah seminari.</p>
<p style="text-align: justify;">Dimulai dengan jatuhnya Hindia Belanda pada 1942, lebih-lebih semasa Revolusi yang bersambung dengan kemerdekaan nasional, keeksklusifan masyarakat Kristen Depok tidak dapat bertahan terhadap perubahan politik. Juga status tanah mereka sudah tak bisa dipertahankan sesuai dengan surat wasiat Chastelein. Sebagian besar tanah-tanah pertanian telah menjadi wilayah pemukiman yang dihuni oleh para pendatang dari seluruh penjuru Indonesia. Kekristenan tidak lagi menjadi kekhasan penduduknya. Dan semasa Orde Baru, Depok juga berkembang menjadi kota universitas dan perguruan tinggi. Sedang di bidang administrasi sekarang menjadi kotif dalam Kabupaten Bogor.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber:<br />
Jalan Raya Pos, Jalan Daendels<br />
Pramoedya Ananta Toer<br />
Lentera Dipantara</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/08/jalan-raya-pos-jalan-daendels-i.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jalan Raya Pos, Jalan Daendels'>Jalan Raya Pos, Jalan Daendels</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Batavia'>Batavia</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/14/tangerang.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tangerang'>Tangerang</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tangerang</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/09/14/tangerang.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/09/14/tangerang.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Sep 2006 03:11:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2006/09/14/tangerang.htm</guid>
		<description><![CDATA[Jalan Raya Pos dengan sejumlah tikungan ke tenggara dan timurlaut sejauh lebih dari 50 kilometer membawa orang sampai ke Tangerang. Wilayah ini pernah jadi pemusatan para pemberontak yang berhasil menggulingkan Ratu Fatimah, gadis Arab itu, dari kesultanan Banten. Pemimpinnya yang kharismatik, Kyai Tapa, meluaskan perlawanannya terhadap Kompeni Belanda sampai ke seluruh Priangan, dan untuk waktu lama mengusik tanampaksa kopi, darah hidup Kompeni.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Depok'>Depok</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/bandung.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bandung'>Bandung</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Batavia'>Batavia</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/Logo_kab_tangerang.gif"><img class="alignleft size-full wp-image-328" title="Logo_kab_tangerang" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/Logo_kab_tangerang.gif" alt="Logo_kab_tangerang" width="203" height="243" /></a>Tangerang sebagai nama tempat adalah ejaan salah warisan Belanda. Semestinya ditulis dan diucapkan: Tanggeran.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalan Raya Pos dengan sejumlah tikungan ke tenggara dan timurlaut sejauh lebih dari 50 kilometer membawa orang sampai ke Tangerang. Wilayah ini pernah jadi pemusatan para pemberontak yang berhasil menggulingkan Ratu Fatimah, gadis Arab itu, dari kesultanan Banten. Pemimpinnya yang kharismatik, Kyai Tapa, meluaskan perlawanannya terhadap Kompeni Belanda sampai ke seluruh Priangan, dan untuk waktu lama mengusik tanampaksa kopi, darah hidup Kompeni.<span id="more-70"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sampai dengan kemerdekaan nasional, penduduk lebih suka menamai tempatnya: Benteng. Memang perbentengan kuat pernah didirikan Kompeni untuk menghadapi Banten yang rakyatnya terus bergolak, dan dengan demikian melindungi Batavia. Semasa kolonial itu, pemerintah kolonial telah menjual tanah Tangerang kepada 70 orang tuantanah, kebanyakan Tionghoa. Sebagai akibatnya penduduk yang ikut terjual mendapat kewajiban lebih banyak daripada di tanahtanah gubermen. Penduduk yang tak berdaya secara hukum menghadapi persekongkolan kolonial dengan tuantanah, melahirkan para jawara atau para jagoan sebagai kekuasaan tandingan, dengan aksi-aksinya, yang menurut ukuran hukum yang berlaku adalah kriminal. Mereka membentuk gerombolan-gerombolan yang mengganggu kemapanan kolonial dan tuantanah. Namun perlindungan pada tuantanah tetap lebih unggul berbanding para jawara dengan gerombolannya. Tradisi jawara tanpa tuantanah dalam era kemerdekaan nasional menjadi sumber kriminalitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanahnya yang datar dan subur saja menghasilkan beras, juga berbagai palawija, terutama kedelai. Ini membikin Tangerang jadi produsen kecap sejak jaman Kompeni, jaman Hindia Belanda, Jepang, sampai kemerdekaan Nasional. Kecap produksi sini juga dikenal sebagai kecap Benteng, dan selalu dipromosikan sebagai kecap klas satu. Kenomor-satuannya menyebabkan Bung Karno bisa membikin ungkapan &#8220;ngecap&#8221; yang berarti mempromosikan diri sebagai yang nomor wahid.</p>
<p style="text-align: justify;">Topi anyaman bambu telah membuat tempat ini terkenal di dunia. Pada 1887 saja Tangerang telah mengekspor topi 145 juta buah, terutama ke Prancis. Telah menjadi kebiasaan dalam kurun tersebut, topi Tangerang dipergunakan oleh para pekerja pelabuhan baik di Eropa maupun di Amerika, dan terutama Amerika Latin. Sejak masa pendudukan Jepang, disusul Revolusi dan kemerdekaan nasional, industri topi bambu gulung tikar dan nampaknya takkan bangun lagi untuk selamalamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangerang dibelah oleh Ci Sadane. Konon dahulu sungai ini jadi perbatasan antara kesultanan Banten dengan kerajaan Javakarta. Benteng yang didirikan Kompeni di sini dinamai Tangerang, yang menyebabkan mulai dari sini sampai ke muaranya Ci Sadane dinamai Kali Tangerang. Belanda telah menggali kanal yang menghubungkan ibukota Tangerang melalui air dengan Ci Sadane dan Kali Angke di Batavia. Sepotong hidupku pernah habis di tempat ini. Dari Desember 1965 sampai Mei 1966. Dalam penjara pemuda, yang beberapa bagian daripadanya dipergunakan tempat tahanan politik. Tanah milik penjara di luar tembok adalah tempat kami melakukan kerjapaksa bertanam sayuran khusus untuk menambah isi kantong komandan kamp. Di penjara ini sekali-dua kami dengar ramai-ramai tawur antara kelompok etnis pemuda kriminal kontra kelompok etnis pemuda kriminal lain yang diakhiri dengan sorak-sorai skore hasil tawuran. Satu-dua, atau dua-tiga. Dan itulah jumlah kurban terbunuh dalam tawuran. Di sini juga aku jadi saksi bagaimana teman-teman tapol dalam penjara ini menderita kelaparan. Jatah makan yang diberikan tidak mencukupi baik dalam kualitas maupun kuantitas sehingga pada waktu-waktu genting tertentu sehari bisa dua sampai tiga teman tapol meninggal. Sekali pernah enam teman mati dalam sehari. Kelaparan ini akibat korupnya birokrasi atau memang diterapkan sistim pembunuhan melalui pelaparan; bagi yang mati maupun yang ditahan, tak ada bedanya. Tapol, kematian, perampokan, pelaparan adalah salah satu metode untuk mendirikan Orde Baru. Yang penting dalam sejarah kemerdekaan nasional adalah bahwa di tempat inilah untuk pertama kali didirikan Akademi Militer semasa Revolusi masih pada tingkat awal. Dan sekarang Tangerang telah menjadi kota industri di samping perdagangan, juga kota pemukiman buruh dan birokrat yang bekerja di Jakarta. Maka lalulintas Tangerang Jakarta termasuk terpadat di Indonesia, yang mencapai puncaknya pada jam-jam masuk dan keluar kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber:<br />
Jalan Raya Pos, Jalan Daendels<br />
Pramoedya Ananta Toer<br />
Lentera Dipantara</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/14/tangerang.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/14/tangerang.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Depok'>Depok</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/bandung.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bandung'>Bandung</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Batavia'>Batavia</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/09/14/tangerang.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Raya Pos, Jalan Daendels</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/09/08/jalan-raya-pos-jalan-daendels-i.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/09/08/jalan-raya-pos-jalan-daendels-i.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Sep 2006 07:20:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.nukilan.com/2006/09/08/jalan-raya-pos-jalan-daendels-i.htm</guid>
		<description><![CDATA[Di atas adalah kata-kata dari Pram. Dari bukunya "Jalan Raya Pos, Jalan Daendels" disimpulkan bawha kita adalah bangsa kaya tapi lemah. Bangsa yang sejak lama bermental diperintah oleh bangsa-bangsa lain. Bangsa yang penguasanya lebih asik memupuk-mupuk ambisi berkuasa daripada mengerai kesejahteraan bagi warganya. 


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Batavia'>Batavia</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Depok'>Depok</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/bandung.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bandung'>Bandung</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/jrp-jd2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-320" title="jrp-jd2" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/09/jrp-jd2-193x300.jpg" alt="jrp-jd2" width="193" height="300" /></a></p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.</p>
<p>-Pramoedya Ananta Toer-</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Di atas adalah kata-kata dari Pram. Dari bukunya &#8220;Jalan Raya Pos, Jalan Daendels&#8221; disimpulkan bawha kita adalah bangsa kaya tapi lemah. Bangsa yang sejak lama bermental diperintah oleh bangsa-bangsa lain. Bangsa yang penguasanya lebih asik memupuk-mupuk ambisi berkuasa daripada mengerai kesejahteraan bagi warganya. (hal 6).</p>
<p style="text-align: justify;">Pram menulis buku ini dengan nuansa mengalir dan tidak dibagi ke dalam bab tetapi dibagi berdasarkan kota-kota sepanjang Jalan Pos yang dilewati olehnya. Pram menceritakan sejarah kota secara detail dan beberapa kenangan pribadinya di kota-kota itu.<span id="more-61"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Genosida</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah membaca buku itu aku menjadi bingung. Apakah Daendels jahat atau sebaliknya berjasa kepada Jawa? Jahat karena untuk membangun jalan yang menghubungi kedua ujung Jawa  Daendels mengorbankan puluhan ribu pribumi. Mereka dipaksa kerja dengan upah minim atau tanpa upah sama sekali. Di lain pihak dikatakan berjasa karena dengan jalan itu membuat Jawa lebih mudah diakses dan waktu tempuh menjadi lebih singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pram sering menyingung masalah genosida di buku ini. Yang dilakukan oleh Daendels adalah genosida yang tidak langsung. Banyak genosida langsung dan tidak langsung yang dilakukan oleh bangsa lain terhadap pribumi. Tetapi genosida yang terbesar dilakukan oleh bangsa sendiri pada awal Orde Baru.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Korupsi Warisan Belanda</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Korupsi sudah ada sejak 300 tahun yang lalu. Dan sangat mengakar di kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan sistem feodal Pribumi yang vertikal. Orang yang berada diatas susunan tersebut berhak mendapat upeti dari bawahannya, dan hal itu bukan merupakan kejahatan. Celakanya ada dari kalangan rakyat jelata yang merasa bersyukur bila dapat mempersembahkan upeti sampa di luar batas kemampuannya kepada para pembesaranya sendiri. So gimana mau melawan korupsi yang sudah mendarah daging?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana Petani Jawa Hidup?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan petani pada tahun 1809 sangat-sangat menyedihkan. Petani sekarang? Tidak jauh berbeda. Pada masa itu petani hanya dapat menikmati seperempatbelas dari hasil panennya. Tiga belas perempatbelas untuk membiayai tata-susunan feodal Pribumi sendiri, kekuasaan kolonial, dan kemakmuran serta kesejahteraan Belanda, Eropa. Sisa yang seperempatbelas itu untuk kepentingan pribadi dan keluarganya masih harus membayar mahal pada para pemegang monopol pasar, pejagalan, madat, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Raja Belanda sampai Dewan Hindia dan Gubenur Jendral, Residen dan birokrasinya, Bupati sampai pamong desa terendah, semua hidup dari penghasilan petani. Jadi, bagaimana petani Jawa bisa hidup? Orang Inggris menjawab sendiri: karena kesuburan tanahnya. Justru karena itu petani sebagai lapisan terbawah masyarakat tidak boleh menjadi bebas.</p>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/08/jalan-raya-pos-jalan-daendels-i.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/09/08/jalan-raya-pos-jalan-daendels-i.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/batavia.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Batavia'>Batavia</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/14/depok.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Depok'>Depok</a></li><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/15/bandung.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bandung'>Bandung</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/09/08/jalan-raya-pos-jalan-daendels-i.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mangir</title>
		<link>http://nukilan.com/2006/06/05/mangir.htm</link>
		<comments>http://nukilan.com/2006/06/05/mangir.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jun 2006 08:11:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Drama]]></category>
		<category><![CDATA[Pramoedya Ananta Toer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.nukilan.com/2006_06_05_mangir.html</guid>
		<description><![CDATA[Aku ikut merasakan bagaimana beratnya perasaan Sekar Pembayun yang begitu mencintai suaminya tetapi dia harus mengkhianatinya. Begitu juga perasaan Ki Ageng Mangir Wanabaya ketika mengetahui dusta sang istri. Dia tau istrinya menipu dirinya dan dia juga sadar kalau istrinya mencintai dirinya 100%.


Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/08/jalan-raya-pos-jalan-daendels-i.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jalan Raya Pos, Jalan Daendels'>Jalan Raya Pos, Jalan Daendels</a></li></ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"><a href="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/06/NPA009-MANGIR-Drama-.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-532" title="NPA009-MANGIR-Drama-" src="http://nukilan.com/wp-content/uploads/2006/06/NPA009-MANGIR-Drama--199x300.jpg" alt="NPA009-MANGIR-Drama-" width="199" height="300" /></a>Pramoedya Ananta Toer melalui Mangir menceritakan perseteruan antara Kerajaan Mataram dengan Perdikan Mangir. Di dalam bukunya PAT memaparkan kelicikan, ketulusan cinta, busuknya politik, dan kesetiaan manusia.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;">Yang paling aku suka dari cerita Mangir adalah kisah cinta antara Ki Ageng Mangir Wanabaya dan Sekar Pembayun. Pada awalnya Sekar Pembayun membantu ayahnya untuk  menjebak Ki Ageng Mangir Wanabaya dengan cara mencuri hatinya. Ternyata bukan hanya hati Ki Ageng Mangir Wanabaya yang berhasil dicurinya tetapi hati Sekar Pembayun juga ikut tercuri oleh Ki Ageng Mangir Wanabaya.<span id="more-37"></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;">Aku ikut merasakan bagaimana beratnya perasaan Sekar Pembayun yang begitu mencintai suaminya tetapi dia harus mengkhianatinya. Begitu juga perasaan Ki Ageng Mangir Wanabaya ketika mengetahui dusta sang istri. Dia tau istrinya menipu dirinya dan dia juga sadar kalau istrinya mencintai dirinya 100%.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;">Tidak bisa dibayangkan bagaimana Ki Ageng Mangir Wanabaya menerima kenyataan tersebut dan mempertanggung jawabkan kepada teman-temannya yang telah mempercayai nasib desa mereka kepada dirinya.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;">Inilah sipnosis Mangir karya Pramoedya Ananta Toer yang diambil dari itgo.com</p>
<blockquote>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;">http://www.mangir.itgo.com/Sinop.htm</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><em><strong>SINOPSIS </strong></em></span></p>
<div style="text-align: justify;">
<p class="MsoBodyText" align="left">Ketika Majapahit runtuh (1527), Jawa            menjadi daerah yang tidak bertuan dan tidak mengenal satu kekuasaan            tunggal. Pada saat yang bersamaan pula, Wali Sanga mulai menyebarkan            Islam melalui pesisir Utara dan Portugis telah datang ke Sunda Kelapa.</p>
<p class="MsoBodyText" align="left">Kekuasaan tak berpusat tersebar praktis            di seluruh Jawa, menyebabkan keadaan kacau balau. Perang yang terus            menerus untuk merebut kekuasaan tunggal membuat Pulau Jawa bermandikan            darah. Sehingga yang muncul di Jawa adalah daerah-daerah kecil (desa)            yang berbentuk Perdikan (desa yang tidak mempunyai kewajiban membayar            pajak kepada pemerintah penguasa) dan menjalankan sistem demokrasi desa,            dengan penguasanya yang bergelar Ki Ageng. Adalah Ki Ageng Pamanahan            menguasai Mataram dan mendirikan Kota Gede pada 1577. Kemudian Panembahan            Senapati, anak Ki Ageng Pamanahan naik menjadi Raja Mataram.</p>
<p class="MsoBodyText" align="left">Saat bersamaan muncul pula sebuah daerah            Perdikan Mangir dengan pemimpinnya yang bernama Ki Ageng Mangir Wanabaya.            Seperti layaknya daerah-daerah lain di Jawa, pertempuran perebutan kekuasaan            pun tidak terelakkan, demikian pula antara Mangir dan Mataram. Hal ini            sangat dimungkinkan karena letak Perdikan Mangir dan Mataram yang sangat            berdekatan, sekitar Â± 30 km. Maka persaingan antara dua kekuasaan tersebut            menjadi tidak terelakkan lagi, terlebih dengan usaha penggenapan janji            Ki Ageng Pamanahan kepada Joko Tingkir (Sultan Hadi Wijaya) untuk menguasai            sepenuhnya Mataram.</p>
</div>
<p class="MsoBodyText" align="left">Pada akhirnya Mangir kalah setelah Ki            Ageng Mangir mati di tangan Panembahan Senapati sewaktu menghadap bersama            Sekar Pembayun dalam sebuah perkawinan rekayasa yang dibuat oleh Mataram            dalam rangka menghancurkan kekuasaan Mangir dan daerah-daerah lain yang            turut membantu Mangir, dan pada 1581 Ki Ageng Pamanahan berhasil menguasai            Mataram (dan sekitarnya).</p>
</blockquote>
<p class="facebook"><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/06/05/mangir.htm" target="_blank"><img src="http://nukilan.com/wp-content/plugins/add-to-facebook-plugin/facebook_share_icon.gif" alt="Share on Facebook" title="Share on Facebook" /></a><a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http://nukilan.com/2006/06/05/mangir.htm" target="_blank" title="Share on Facebook">Share on Facebook</a></p>

<p>Related posts:<ol><li><a href='http://nukilan.com/2006/09/08/jalan-raya-pos-jalan-daendels-i.htm' rel='bookmark' title='Permanent Link: Jalan Raya Pos, Jalan Daendels'>Jalan Raya Pos, Jalan Daendels</a></li></ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nukilan.com/2006/06/05/mangir.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

